Langsung ke konten utama

Sukabumi dan Tritangtu (2)


Tritangtu dalam Budaya Sunda merupakan sebuah konklusi-meditatif yang telah dicetuskan oleh para leluhur atau karuhun Sunda. Totalitas dalam kehidupan merupakan ciri utama konsep ini. Pembagian masyarakat menjadi tiga kelompok dilakukan bukan untuk membedakan melainkan untuk meneguhkan posisi dan jati diri setiap individu. Resi, Rama/Sepuh, dan Ratu menjadi  tiga lembaga , berperan dalam mensejahterakan masyarakat; Ngaping, Ngajaring, Ngaheuyeuk. Ngasah, Ngasuh, dan Ngaasih.



Pola budaya seperti ini lahir sebagai pengejawantahan kebersamaan dan persamaan manusia dengan kosmos (alam raya). Manusia Sunda bisa dikatakan sebagai kelompok tradisional, dikatakan seperti itu memang wajar karena secara historis, akar kebudayaan dan peradaban dunia ini berasal dari satu sumber dan ajaran, sebagai software di alam semesta ini. Software atau perangkat lunak akan dikatakan sebagai perangkat lunak terpercaya ketika ada kesinambungan antara hardware (Kosmos) dengan software-nya (Mikro-kosmos). Jika terjadi benturan atau konflik, maka sudah bisa dipastikan keharmonian semesta akan berubah menjadi anomik.



Durkheim menyebutkan dalam teori ‘Bunuh Diri” atau Suicide, penyebab utama lahirnya masyarakat anomi adalah hilangnya atau berubahnya nilai-nilai harmoni antara diri manusia dengan semesta dan lingungan sekitar. Bisa dipastikan, masyarakat anomi atau “masyarakat menyimpang” terlahir karena paksaaan yang berada di luar dirinya ketika manusia ingin menjadi dirinya sendiri. Ciri utama masyarakat anomi adalah adanya kesenjangan antara kapasitas dirinya dengan paksaan yang ada di luar dirinya sendiri.



Masyarakat modern dipersatukan oleh sebuah solidaritas karena dipaksa oleh apa yang ada di luar kapasitas dirinya. Misalkan, lahirnya kelompok-kelompok atau geng-geng dalam kehidupan tidak ditentukan secara alamiah bahwa manusia menyukai kelompok-kelompok tersebut melainkan dipaksa untuk mengikuti dan menjadi bagian dari mereka. Maka, jika paksaan dari luar ini lebih kuat dari moralitas individu, cara sederhana akan dilakukan, bunuh diri atau membangun klandestin yang siap memerangi bahkan menghancurkan diri sendiri sebagai bentuk protes terhadap kelompok lain.



Pemikiran Durkheim berbanding lurus dengan Marx yang menyebutkan, sejarah dan kehidupan manusia dibentuk oleh pertentangan kelas. Diferensiasi dan stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat secara alamiah akan terus bertolak-belakang satu sama lain, lahir in-harmony, chaos, keonaran (meminjam istilah yang sedang ngtrend akhir-akhir ini), perang, pertikaian, dan puncaknya adalah Survival for the fittest sebagaimana dalam teori Darwin, di mana dalam teori ini disebutkan hanya kelompok unggul yang akan tetap bertahan. Secara umum, tiga pemikiran tokoh-tokoh tersebut; Durkheim dalam Division of Labour, Marx dalam Social Conflict, dan Darwin dalam Struggle for Life mengukuhkan bahwa kehidupan lahir karena adanya pertentangan. Tidak salah, kehidupan modern akan terus dihinggapi oleh landasan berpijak seperti ini.



Sementara pandangan utama dalam konsep tritangtu adalah lahirnya keharmonian karena pada dasarnya manusia berasal dari satu sumber yang sama. Adanya totalitas dan kesinambungan manusia yang dengan yang lain, hilangnya diferensiasi berdasarkan subyektivitas diri, dan lahirnya kemanunggalan kehidupan dalam masyarakat. Kesadaran bahwa manusia tidak berbeda dengan semesta mengharuskan manusia pun menghormati alam dan manusia lainnya. Rakean Dharmasiksa, dalam Naskah Amanat Galunggung menyebutkan, pentingnya manusia Sunda menghargai nilai-nilai historis atau masa lalu sebagai pijakan untuk melangkah saat ini. Hana nguni hana mangké, ada dahulu dan ada sekarang. Jika dielaborasi lebih jauh, masa kini tidak terlepas dari masa lalu.



Akar historis semesta dan kehidupan ini berjalan secara harmoni sesuai dengan kehendak Sang Maha Pencipta. Maka, dalam naskah Amanat Galunggung tersebut, Dharmasiksa begitu kuat menyebutkan bagaimana semestinya manusia hidup dalam kehidupan ini agar tetap selaras dan harmoni. Konflik dan peperangan merupakan hal tabu dalam masyarakat yang memegang teguh tritangtu sebab kepastian yang lahir dalam kehidupan masyarakat seperti itu adalah kesejajaran yang dipersatukan oleh fakta subyektif bahwa manusia membutuhkan orang lain bukan dengan cara paksaan namun memang sudah alamiah.





Struggle for life, perjuangan dalam tritangtu tidak hanya berhenti pada hal homogen dan tunggal. Tidak sekadar melampiaskan hasrat penguasaan atau dominasi, sebab dominasi terhadap apa pun akan menghilangkan keharmonian dan kesejajaran antara -manusia-alam. Tritangtu , tiga adegan dalam hidup ini menyebar secara sporadis pada beberapa milyar tahun lalu. Proses turbulensi sosial yang terjadi selama kurun waktu tersebut mengakibatkan konsep atau software orisinal dari tritangtu berubah, berganti nama hingga membentuk menjadi ajaran dalam bingkai teologis; trinitas Mesir Kuno (Ra, Osiris, Isis), trinitas Arab Kuno (Latta, Uzza, Manaat), trinitas Hebrew (Yahweh, Jahbulon, Elohim), trimurti Hindu (Brahma, Wisnu, Shiwa).



Hasil obrolan saya dengan beberapa teman, akhir-akhir ini memang sungguh sulit untuk mengupas apalagi menentukan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Sukabumi jika merujuk kepada konsep tritangtu dalam kasundaan. Permasalahan yang tampak di permukaan, tata ruang dan pemungsian lahan di dalam kehidupan modern sudah tidak lagi memerdulikan aturan yang dikehendaki oleh alam hingga skala kecil sekalipun. Hal tersebut terjadi sebagai akibat bukan tidak tahu menahunya masyarakat Sukabumi terhadap konsep tritangtu kecuali semakin cairnya masyarakat dalam memanfaatkan lahan dan tanah yang ada di sekitarnya.



Bagaimanapun juga, jika cara pandang kita difokuskan secara utuh, pada dasarnya perencanaan baik tata ruang, pemungsian lahan-lahan, dan pemanfaatan kewilayahan tetap dilakukan oleh manusia di zaman sekarang. Saat ini, pembagian pemanfaatan lahan sesuai dengan fungsinya masih tetap dijaga, areal pemakaman biasanya ditempatkan di pinggir perkampungan, tempat ibadah ditempatkan di tengah perkampunga, dan pemukiman pendidik ditempatkan mengikuti pola jalan.



Yang belum kita lakukan adalah perencanaan dan permenungan untuk memahami di mana seharusnya penempatan tempat ibadah, pusat pendidikan, dan pusat pemerintahan. Konsep seperti ini sebetulnya jauh-jauh hari telah dipraktikkan oleh Amerika Serikat saat awal berdirinya negara ini. Tiga komponen tempat benar-benar dibangun berdasarkan pola yang telah disepakati oleh para leluhur mereka. Artinya, perlu dan penting sekali adanya semacam “gempungan” setiap unsur dalam kehidupan: pemimpin, pemuka agama, dan akademisi untuk menghasilkan consensus terhadap sebuah tata ruang dan wilayah agar mengharsilkan satu harmoni antara manusia dan alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014