Langsung ke konten utama

Peran dan Posisi Kita di Era Revolusi Industri 4.0

Peradaban manusia sebagai kondisi perubahan dari pola hidup yang dipenuhi  oleh kebiadaban ke cara hidup yang lebih beradab sering dipandang oleh manusia melauli pendekatan hal yang kasat mata. Hal tersebut begitu lumrah sebab bagaimana pun perubahan besar-besaran dalam kehidupan manusia selalu bersinggungan dengan nilai-nilai positif dan matematis. Lebih dari itu manusia selalu memandang setiap persoalan terutama kemajuan merupakan hal yang harus dapat diukur, diuji, dan dipraktikkan melalui cara-cara logis.

Era kebiadaban memang tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia sebab kedua entitas antara biadab dan beradab merupakan satu kesatuan yang utuh seperti hitam dan putih atau terang dan gelap. Hal mana yang paling dominan apakah biadab atau beradab itu yang akan menjadi penentu apakah sebuah zaman disebut sebagai era kebiadaban atau era peradaban. Jika dipandang secara subyektif oleh kondisi sekarang di mana kita hidup, sudah tentu zaman sebelum manusia mengenal tulisan, era sebelum teknik bercocok tanam ditemukan, dan manusia belum menggunakan roda untuk memindahkan satu barang dari satu tempat ke tempat lain akan kita sebut sebagai era yang penuh kebiadaban. Cara pandang seperti ini juga pada akhirnya akan ditudingkan kepada kita oleh anak cucu kita di masa yang akan datang.

Saat ini  kening kita 'dikernyitkan' oleh wacana baru saat teknologi dan informasi sudah sedemikian merangsak begitu cepat: Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri sebetulnya bukan istilah yang aneh bagi kita, informasi mengenai revolusi teragung sepanjang sejarah manusia tersebut telah kita kenal dalam pelajaran sejarah dunia Barat di sekolah. Revolusi Industri 4.0 ini menegaskan kepada kita bahwa revolusi ini telah memasuki volume ke 4, sebuah lompatan begitu singkat jika intervalnya dibandingkan dengan awal masa sejarah saat manusia baru mengenal tulisan ke masa revolusi pertama pada abad ke 18. Hanya memerlukan waktu dua abad sejak Revolusi Industri 1.0 sampai ke revolusi 4.0 manusia telah dapat mengubah segala aspek kehidupannya.

Revolusi Industri 4.0 telah memosisikan kehidupan manusia sebagai sebuah pabrik cerdas merupakan rangkaian dari proses revolutif pengetahuan manusia. Sebagai resultan dari revolusi-revolusi sebelumnya. Bagaimana juga harus kita akui, lahirnya Revolusi Industri pada abad ke 18 tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Perkembangan sains di era pencerahan sebagai sebuah Revolusi Ilmu Pengetahuan pada dua abad sebelumnya menjadi faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri. 

Kemudian jika dikaji secara runut ke belakang lahirnya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 (Renaissance) dilatarbelakangi juga oleh sejarah kelam abad kegelapan pergolakan pemikiran antara kaum agaman dengan para saintis dalam memandang kosmik. Sementara itu, lahirnya abad kegelapan terjadi pasca manusia meluberkan kekerasan, perebutan wilayah, dan perang kerajaan-kerajaan besar sebagai akibat dari keinginan memperluas dominasi. Faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan setiap zaman itu pada akhirnya terkumpul di era ini, sebuah sebutan agung: Revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 sebagai era disruptif yaitu proses terjadinya pengrusakan terhadap tatanan yang telah lama dan dianggap ketinggalan zaman kemudian diganti oleh tatanan baru. Pengrusakan ini hampir terjadi di berbagai sektor kehidupan: sosial, politik, budaya, terutama ekonomi. Etika manusia dalam kehidupan ini telah didisrupsi oleh banyaknya regulasi dan aturan yang dibuat oleh manusia. Manusia tidak lagi mementingkan susila ketika aturan-aturan dibuat secara positif, misalnya: berbohong itu merupakan perbuatan asusila tetapi berbohong seolah menjadi bias dan dapat dilakukan karena yang dikejar oleh aturan adalah akuntabilitas, dapat dipertanggungjawabkan meskipun oleh data-data kurang valid. 

Revolusi Industri 4.0 selain ditandai oleh kondisi disrupsi terhadap setiap sektor, juga ditandai oleh interdepedensi unsur-unsur kehidupan dalam pemanfaatan internet (Internet of Things) dan  ketersediaan data yang cukup besar (Big Data). Beberapa tahun lalu, Dimitri Mahayana membuat sebuah ilustrasi terkait keterhubungan setiap anasir kehidupan manusia dengan internet dari mulai bangun tidur hingga bangun tidur lagi. Kebutuhan manusia terhadap internet ini berdampak pada kebutuhan lain yaitu tersedianya data dalam ukuran sangat besar, sebut saja "maha data". Tetapi tidak cukup sampai di sana, penggunaan internet dan ketersediaan maha data ini selanjutnya direspon oleh manusia untuk mengeluarkan kembali data-data tersebut, diviralkan, dan dibagikan kembali melalui layanan-layanan daring, misalnya media sosial.

Alih fungsi ruang nyata ke ruang maya ini menjadi pemantik lahirnya kondisi: Volatility (perubahan sangat cepat dan labil), Uncertainly (ketidakpastian), Complexity (beragam), dan Ambiguity (ketidakjelasan). Sudah tentu jika kondisi ini tidak disikapi secara serius akan menghasilkan iklim chaotic akut sebagaimana porediksi Peter F Drucker. Ramalan terhadap kondisi ini telah dicetuskan oleh para  ahli masa depan pada tahun 1987 pada era Revolusi Industri 3.0 ketika manusia telah menemukan dan memanfaatkan semikonduktor yang menggerakkan seluruh kehidupan ke industrialisasi yang serba murah. 

Hal paling dikhawatirkan oleh manusia adalah kondisi chaotic ini sebenarnya tidak hanya dilatarbelakangi oleh VUCA juga besar dipengaruhi oleh ketersediaan daya dukung sumberdaya alam (Bumi) terhadap manusia itu sendiri. Diperkirakan, daya dukung Bumi kita untuk mencukupi seluruh populasi manusia akan berkurang satu abad ke depan (tahun 2100) ketika jumlah/populasi telah mencapai dua kali lipat dari sekarang. Daya  dukung bumi akan ikut menyusut. Memang tidak akan kita rasakan, tetapi sangat berdampak pada generasi di masa yang akan datang (bayi yang dilahirkan hari ini akan merasakan langsung akibat dari menyusutnya daya dukung bumi tersebut).

Lalu apakah peran dan di mana posisi kita di era Revolusi Industri 4.0 ini? Merujuk kepada diri kita dari kacamata Keindonesiaan, jika mau jujur, saat Revolusi Industri 1.0 di abad ke 18 mulai mewabah, sebuah Revolusi Besar terjadi di negeri ini dalam pengembangan daya dukung bumi terutama ketersediaan pangan untuk manusia. Di era kejayaan kerajaan-kerjaan, penduduk Nusantara telah memikirkan hal paling penting bagi kehidupan manusia. Pertanian, perkebunan, ketersediaan rempah-rempah, dan mineral merupakan bagian terpenting dan tidak dapat dipisahkan dengan penduduk Nusantara sebagai bangsa besar (penguasa perdagangan daerah pesisir). 

Dapat dibayangkan, hampir separuh kebutuhan pangan Eropa dipasok dari Nusantara. Tidak akan lahir peribahasa "Bru di juru bro di panto, ngalayah di tengah imah" di masyarakat Sunda jika sebelumnya mereka tidak mengalami kelebihan atau melimpahnya daya dukung bumi terhadap kehidupan waktu itu.  Dalam Naskah Wangsakerta disebutkan: pulau-pulau di Nusantara ini subur tanahnya, subur tumbuh-tumbuhannya, kehidupan penduduknya bahagia, serbaneka rempah-rempahnya, dan kehidupan penduduk menjadi sejahtera.

Fakta ini memang tertutup oleh semangat rekonquista dan merkantilisme bangsa-bangsa Eropa yang membawa terminus dan barang-barang hasil Revolusi Industri ke wilayah-wilayah koloninya. Kolaborasi antara sumber daya alam dengan barang-barang yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik berubah menjadi dominasi satu arah. Artinya, kemajuan jika dipegang oleh sekelompok manusia serakah/jahat selalu melahirkan penjajahan, sebaliknya manusia-manusia baik jika tidak menguasai teknologi harus selalu siap menjadi bangsa yang dijajah. 

Maka sangat jelas, peran dan posisi leluhur kita di Nusantara beberapa abad ke belakang telah mengamankan daya dukung bumi ini kepada generasi kita sekarang. Terkait pengamanan daya dukung bumi terhadap manusia di masa yang akan datang, peran dan posisi manusia saat ini harus terus-menerus melakukan ikhtiar sebagaimana harapan dalam SDG's pembangunan yang terus berkelanjutan. Merujuk  pada sebuah film, kita harus tetap melakukan cara-cara yang dilakukan oleh para Avenger untuk menyelamatkan daya dukung bumi di masa depan meskipun dapat saja generasi sekarang menggunakan cara yang dilakukan oleh seorang Thanos, menghilangkan setengah atau sebagian besar populasi di Bumi agar daya dukung Bumi terhadap mahluk hidup kembali seperti semula. Cara-cara Thanos memang serba cepat namun akan menghilangkan jati diri  khas kita sebagai manusia; mahluk yang akan terus mengepakkan pikirannya sampai ke cakrawala tertinggi. Ke depan, bisa saja Bumi akan ditinggalkan manusia, manusia akan mencari daya dukung kehidupan lain di planet lain. Bukanlah alam semesta ini sedemikian luas?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014