Langsung ke konten utama

Jurnal 1: Bekerja di Pemkot Sukabumi

Dulu memang tidak pernah terbersit bekerja di lembaga pemerintah, misalnya kantor kelurahan, kecamatan, atau lembaga lainnya yang berhubungan dengan administrasi perkantoran. Menjadi pendidik juga saya pikir sudah terlalu mewah. Ada hal absurd, apakah tenaga pengajar dikategorikan sebagai jenis pekerjaan atau semacam para pahlawan sebutan bagi mereka yang telah berjasa kepada negaranya? Lupakan semua itu.

Paska Penyelenggaraan Pilkada Kota Sukabumi 2018, Kang Andri Hamami sebagai calon Wakil Wali Kota yang berpasangan dengan Kang Fahmi meraih perolehan suara tertinggi dibanding calon lainnya. Beberapa teman pernah berasumsi, saya sudah dipastikan akan diajak bergabung oleh Kang Andri bekerja di Pemkot Sukabumi. Bagi saya pribadi, karena telah lama berhubungan bail dengan Kang Andri Hamami, tidak menjadi soal ditempatkan sebagai karyawan atau apapun oleh beliau. Yang jelas, sejak hari Senin kemarin, saya telah mulai "ngantor" di bagian Sekretaris Pribadi Wakil Wali Kota Sukabumi.

Orang, siapapun mereka memang tidak sedikit yang memiliki cita-cita untuk bekerja kantoran. Hari pertama bekerja di kantor Pemda, karena tidak biasa, saya merasa agak "keki" juga. Harus duduk berlama-lama di kursi. Keki bukan berarti tidak dapat bekerja dan mengerjakan sesuatu, mungkin karena kebiasaan di lapangan, mengamati, dan menulis saja. Dipikir beberapa kali, nenek saya pernah berkata saat masih kecil, bekerja ditempatkan di mana saja, kamu harus menerima, itu bentuk rasa syukur kamu. Jangan pernah mengomel apalagi protes terhadap keberkahan hidup yang diterima saat ini. Nasihat tersebut tentu saya pegang kuat.

Pekerjaan menjadi Wakil Wali Kota Sukabumi yang diemban oleh Kang Andri Hamami, saya perhatikan cukup berat. Tapi saya benar-benar mengenal sosok beliau, cekatan, bahkan dapat dikatakan lincah. Satu hari saja agenda beliau bisa mencapai lima kegiatan baik agara kedinasan atau di luar kedinasan. Sebagai orang kedua di Kota Sukabumi sudah tentu setiap undangan atau ajakan masyarakat harus sebijaksana mungkin beliau hadiri dan dengar. Mobilitas menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan menjadi seorang direktur sebuah perusahaan.

Pekerjaan baru di kantor Pemerintah Kota Sukabumi sama sekali tidak pernah menyita waktu saya untuk tetap mengajar dan menulis. Kang Andri dan rekan-rekan sekantor tetap memberikan kebijaksanaan waktu. Lagi pula, pekerjaan di kantor ini tidak terlalu jauh dengan bakat menulis. Setiap hari saya melakukan reportase atau laporan kegiatan Kang Andri Hamami melalui media online: blog beliau. Atau jika ada rapat di ruang pertemuan, saya ditugaskan membuat risalah rapat. Jenis pekerjaan yang memiliki karakter keterikatan dengan apa yang telah biasa saya lakukan.

Para pegawai Pemkot Sukabumi juga rata-rata telah saya kenal. Jadi di tempat kerja baru ini, bagi saya, seperti tinggal di sebuah rumah mewah, tempat saya kembali ke keluarga besar. Tidak ada kekangan bagi diri saya untuk tetap mengembangkan bakat menulis, bahkan Pemerintah Kota Sukabumi menurut salah seorang teman yang telah lama bekerja sebagai ASN, sangat membutuhkan orang-orang intelek. Dan celakanya, saya bukan jenis manusia yang disebutkan oleh teman saya itu.

Satu minggu lebih tepatnya lima hari bekerja, pengalaman tentu saja bertambah. Pertama, bagaimana sikap kita sebagai staf Sekpri menghadapi para tamu yang terus-menerus berdatangan. Kedua, bagaimana saya harus mengatur ritme kapan harus mereport kegiatan dan memilah hal apa saja yang perlu dipublikasikan kepada publik. Jawaban terhadap persoalan kedua tentu saja: setiap apapun jenis-jenis kebaikan harus disampaikan dan diberitakan agar masyarakat Kota Sukabumi mengetahui sejauh mana dan sehebat apa hal-hal yang telah dikerjakan oleh Wakil Wali Kota Sukabumi, H. Andri Setiawan Hamami. 

Sukabumi, 06 Oktober 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014