Langsung ke konten utama

Cerpen: Hansip Obet

Aku tulis di tahun 2005

Kalau ditanya siapa orang paling lucu di Kampungku? Semua orang akan mengarahkan telunjuknya kepada lelaki berwajah licin seperti lilin, hidung mancung seperti hidung orang bule, kepala cepak seperti tentara, postur tubuh jangkung kecil seperti tiang telepon, dialah Hansip Obet. Semua orang  Kampung mengenal benar sosok lelaki jangkung ini.

Aktivitas kesehariannya hanya duduk-duduk di pos ronda, membawa alat pemukul berwarna hitam, pastilah kalian tahu alat seperti ini sering dipakai oleh satpam-satpam itu, apalagi kalau di rumah kalian memiliki satpam penjaga. Orang kadang tidak mengerti, kok bisa ya seorang manusia duduk dari pukul delapan hingga menjelang "lohor" di pos ronda tanpa beridir-beridiri? Bahkan tanpa  berbicara. Mengenai kopi dan rokok? Syukurlah di dekat pos ronda itu tinggal Haji Hamid, keperluan apa pun yang dibutuhkan Hansip Obet disediakan olehnya. Ya, kalian memang sudah bisa menyimpulkan, rumah Haji Hamid yang terletak di pinggir jalan itu besarnya bukan main, namun karena orang kampung tidak perlu lah memelihara anjing herder ataupun satpam penjaga rumah. Setidaknya, adanya Hansip Obet bisa mengganti peran seekor anjing dan satpam.

Pernah ada seorang anak bertanya kepada hansip Obet

" Akang kenapa sih mau jadi hansip, kan kata orang-orang hansip itu tentara kutukan?"

Hansip Obet menyelidik, menatap -dalam pandangan dia- seorang bocah ingusan yang belum mengerti kehidupan.

" Mau tahu?"

Si anak  mengangguk.

" Ini…!" Teriak Hansip Obet sambil mengangkat pentungan tinggi-tinggi…

Tanpa disuruh oleh siapa pun, anak itu bergegas meninggalkan pos ronda. Ya.. kalian pun tidak akan bisa memaksa Hansip Obet untuk membongkar alasan kenapa dia mau jadi hansip.

Dahulu, sekitar tahun delapan puluhan , di Kampungku ini pernah ada seorang penduduk bernama Adun, istrinya Siti Sumirah. Orang separuh baya ini membuka warung kecil-kecilan di pojok selatan kampung. Mulanya orang mencibir, kok buka warung di pojok kampung, tidak di tengah kampung, mana akan laku jualan di tempat seperti itu. Namun, lama-lama orang mulai mengernyitkan kening dengan seribu tanya, lho… kok dagang di pojok kampung bisa laku keras juga ya. Ada pula orang yang iri dengan usaha Adun itu. Karena dalam waktu tiga bulan Adun telah merenovasi rumahnya.

Dihembuskanlah sebuah  fitnah, Adun sebenarnya bukan hanya jualan saja atau buka warung, ada usaha lain yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Beberapa penduduk pernah kehilangan uang, dan beberapa petugas ronda pun sempat melihat di kegelapan malam ada seekor babi melintas di salah satu gang sempit kampung. Ditariklah kesimpulan sederhana, Adun adalah Babi Ngepet!

Pak Kadus, mengerahkan warganya untuk menjaga kampung. Dibuatlah jadwal Ronda Malam, tapi karena memang demikianlah hidup di kampung, paguyuban masih kuat, hampir tiap malam orang-orang bertugas ronda, yang tidak kebagian tugas pun ikut-ikutan ronda malam.

Selama sebulan tidak ada hasil. Obrolan tentang babi ngepet tidak ada apa-apanya kecuali isapan jempol belaka. Dalam suasana seperti itu orang-orang kampung tidak sadar kalau istri Adun sedang mengandung, sembilan bulan. Dalam tradisi orang kampung masa kehamilan sembilan bulan ini biasa disebut " Bulan Alaeun.."

Mereka baru sadar setelah ada bisik-bisik dari tetangga, sebentar lagi Siti akan melahirkan. Insyaflah mereka, kalau fitnah telah menutup mata batin mereka akan kebenaran seperti menghormati tetangga, memuliakan seorang ibu yang sedang hamil dan akan melahirkan. Sampai ramailah, siang malam orang berkumpul di rumah Adun. Hingga Siti melahirkan seorang bayi lelaki berkulit licin dibantu oleh seorang Paraji atau dukun beranak bernama Mak Munah, kata ayah aku pun lahir karena dibantu oleh Mak Munah. Meskipun tua namun masih cekatan..

Orangpun ramai-ramai membicarakan nama paling tepat untuk si jabang bayi. Sederhana memang cara orang kampung memberi nama, ada yang mengusulkan 'Atip, Atok, Urip, dan lainnya. Setelah dikumandangkan adzan oleh pak Ustad, barulah Adun sebagai  ayah dari bayi tersebut memberi nama.. " Obet.." Hanya itu, tanpa ada nama belakang. Cukup Obet.

Sejak lahirnya Obet, Usaha Adun semakin maju, warung semakin laris, rumah diperbesar, bahkan dia telah membuat sebuah gudang penyimpanan barang jualan. Di kampung tetangga dia membuat sebuah penggilingan padi, di kampung lain dia membuka pabrik gula aren. Majunya bukan maju biasa. Hingga orang-orang kampung menjadi berdecak kagum dan memuji-muji dia. Hampir tiap malam orang berkumpul di rumah Adun. Di Balik kesuksesan seseorang memang akan selalu ada orang dengki yang menghendaki kejatuhan orang sukses tersebut.

Adun pun lambat laun tergelincir juga. Ketika Obet menginjak Usia tiga tahun, di masa keemasan Adun sebagai orang sukses, datanglah seorang wanita lain ke dalam kehidupannya, sampai berujung pada sebuah pernikahan siri. Mulanya Siti tidak tahu menahu dan masa bodoh akan hal ini. Tapi karena dia seorang wanita, lambat-laun tahulah kalau suaminya itu menikah lagi dengan wanita lain. Maka, dibawalah Obet oleh Siti pulang ke rumah orangtuanya. Demi melihat itu Adun tidak mau ambil pusing, membiarkan saja Siti dan Obet minggat dari rumah. Toh dia sudah punya istri baru, pikirnya.

Istri baru Adun semakin asyik saja hidup dalam gelimang emas, harta, dan uang. Hampir tiap malam dia pergi ke pusat Kota berbelanja keperluan- tentu untuk dirinya sendiri- Entah kenapa, Adun tidak bisa berkutik di depan istri mudanya itu. Sampai pada akhirnya, Adun melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika istrinya adalah wanita keparat.

Adun jatuh…ya..dia jatuh.. Perlahan namun pasti perusahaan-perusahaannya yang telah dia bangun tersungkur ke jurang pailit. Harta dan dunia telah meninggalkannya perlahan demi perlahan. Menurut cerita dari ayah, beberapa bulan setelah kebangkrutan itu Jasad Adun terapung di sungai. Ya, semua orang hanya menerka-nerka apakah dia mati bunuh diri atau mati karena jatuh ke sungai, namun tetap saja semua menyimpulkan… sungguh kematian yang tidak wajar!

Siti menangis. Obet masih kecil dan tidak tahu harus menangis karena apa.

Siti punya keyakinan, Obet sesuai dengan cita-cita suaminya dulu, harus jadi seorang tentara. Dan dia yakin, Obet akan jadi seorang tentara. Keyakinan itu bukan tanpa alasan, tubuh Obet jangkung, bahkan waktu kecil pun jangkungnya melebihi Siti. Ayahku bertutur, ketika Obet duduk di bangku SMP-lah siti Meninggal dunia karena terserang penyakit paru-paru.

Obet dijadikan anak angkat oleh Aip, seorang lelaki miskin, seorang petani, duda tanpa anak. Hidup Obet waktu itu masih wajar seperti anak-anak SMP pada umumnya. Aip masih bisa menyekolahkan Obet sampai tamat SMP. Hingga pada akhirnya, keluarlah sebuah ucapan dari Aip, kalau dirinya tidak bisa membiayai Obet melanjutkan sekolah. Sebagai seorang anak kampung Obet pun memutuskan untuk ikut saja dengan ayah angkatnya, pagi-pagi pergi ke sawah atau ke ladang, dan seminggu sekali pergi ke hutan mencari kayu bakar.

Pada suatu waktu, ada pengumuman dari Balai Desa, Pak Kades katanya membutuhkan seorang kemanan, sudah barang tentu orang-orang pada enggan menjadi hansip, kalau sekedar ikut-ikutan ronda malam sih mau-mau saja, namun kalau jadi hansip harus dipikir delapan pulh ribu kami mungkin. Atas saran dari ayah angkatnya, Obet pun memberanikan diri juga datang ke Balai Desa menemui pak Kades.

" Kamu masih muda, mau jadi Hansip, Obet?"

" Mau…!"

" Hmm… baguslah.. aku beritahu saja kamu, tidak sembarangan orang lho yang mau jadi hansip, buktinya orang lain pada menolak.."

" Iya.."

" Nah, mulai besok kamu akan mulai bertugas, jangan takut, aku akan buatkan seragam untukmu. Bahkan setiap bulan puasa ada tunjangan lho untuk para hansip dari bapak Bupati…"

" Siap, pak!"

Sejak saat itu, orang pun mulai mengenal Hansip Obet. Semua cerita di dunia ini memang terkesan melodramatik, empat bulan bertugas Hansip Obet telah berhasil menangkap seorang maling. Semakin kukuh saja kedudukannya di mata orang-orang, Hansip Obet memang Hansip Sejati, bukan Hansip Gadungan. Sejak saat itu pula, Seragam tidak mau lepas dari tubuhnya. Ke mana pun dia pergi sudah pasti akan memakai seragam Hansip itu. Nama Hansip Obet terkenal bukan hanya di sekitar Kampung Panghegar Manah, juga terkenal di kampung-kampung tetangga. Kalau ada acara hajatan, kenduri, atau apa pun di sanalah Hansip Obet ada. Jika ada orang yang membutuhkan bantuan, ingin menjemput paraji, Hansip Obet hadir di sana, dan terus terang meskipun pada waktu malam, bahkan dia sama sekali tidak perlu diupah oleh orang yang ditolongnya.

Tapi… perlu aku bicarakan pula, meskipun kemuliaan Hansip Obet itu terdengar ke mana-mana, namun jarang sekali anak-anak, pemuda, atau siapa pun yang memiliki cita-cita mejadi seorang Hansip seperti Hansip Obet. Yang sering terdengar adalah, akhir-akhir ini orang ramai-ramai ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil..Terus terang penghargaan kepada Hansip Obet hanya berupa ucapan-ucapan berupa keihklasannya semata.  Orang kurang mengerti, mungkin kecuali Haji Dulhamid, kalau Hansip Obet pun seorang manusia, membuthkan nasi, lauk-pauk, bahkan uang. Namun.. percayalah, Hansip Obet tidak akan berani meminta semua itu kepada kalian, karena dia bukan seorang pengemis atau peminta-minta, dia hanya seorang Hansip..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014