Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Devide et Impera

Ti sakola dasar mula urang geus diwanohkeun kana hiji politik anu kungsi dijadikeun stratégi ku Walanda dina raraga mancawurakeun bangsa anu aya di ieu wewengkon, sok disebut politik 'adu domba'. Politik adu domba atawa devide et impera mémang kudu dilakukeun ku Walanda keur ngawasa Nusantara sagemblengna, keur ngalemahkeun hiji wangunan anu geus lila dijadikeun tatapakan hirup kumbuhna jalma anu aya di Nusantara.
Geus kawentar ka sakuliah dunya, jauh saméméh ieu wewengkon dibéré ngaran Indonésia, bangsa Nusantara katelah jalma-jalma anu ngaheulakeun sumanget réréongan, henteu paaing-aing, jeung teu ngaheulakeun sumanget golongan. Bener, bangsa urang katelah jalma-jalma chauvinis, hal ieu dumasar kana sikep reueus ieu bangsa ka nagrina sorangan. Sikep chauvinis anu ngalahirkeun nasionalisme ieu anu dipikapaur ku bangsa deungeun anu boga maksud ngagalaksak ieu nagri.
Naon anu ngalantarankeun bangsa urang anu aya di Nusantara disebut bangsa hébat? Wewengkon Nusantara mangrupa wewe…

Tantrayana dan Hakekok

Bagi orang Sukabumi sudah tentu pernah mendengar aliran Hakekok (orang-orang menyebutnya Hakok). Aliran ini –karena menggunakan term Islam dan mengaku sebagai bagian/sekte dari Islam- telah ditetapkan sebagai ajaran sesat. Geneologi kosa kata hakekok dapat saja diambil dari kata hakikat.

Sekte Hakekok telah menyebar di Jawa Barat dan berada pada posisi antiklimaks pada tahun 1985. Penetapan sekte ini sebagai aliran sesat demi melihat ritual atau praktik ibadah dalam aliran ini memadukan antara kesucian immanent (berdoa/sembahyang) dengan ritus seks berjamaah.

Menurut beberapa catatan, pada tahun 1950-an, di Cisaat, KH. Muhammad Masthuro melakukan pendekatan persuasif agar masyarakat tidak terkecoh dan terbujuk oleh aliran ini (Abdul Jawad, 2017: 85). Hal sama juga telah dilakukan oleh beberapa kyai dan pondok-pondok pesantren mengingatkan masyarakat terhadap upaya-upaya sekte hakekok (hakok) dalam menyebarkan pengaruh dan ajarannya.

Aliran keagamaan, sekte dan kelompok keberadaan, …

Dari Paradigma Melangit ke Program Membumi

Mencermati paradigma tentang kesukabumian tidak terlepas dari dinamika program  pemerintah dan political will di Kota Sukabumi selama satu setengah dekade. Lembaran-lembaran cerita Kota Sukabumi selama satu setengah dekade dilihat dari program pemerintah dan langkah-langkah strategis politis di mulai paska penyelenggaraan Pilkada Langsung tahun 2018. Pasangan Muslikh Abdusysukur dan Mulyono memperoleh suara terbanyak selanjutnya jabatan politis tersesbut diemban oleh pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sukabumi 2008-2013 ini dengan visi mewujudkan  Kota Sukabumi dengan Paradigma Surgawi.

Visi Kota Sukabumi selama lima tahun masa kepemimpinan Muslikh dan Mulyono tersebut jika dicermati secara letter-lerk tentu merupakan visi yang cukup melangit, artinya hendak menularkan bahasa langit (Surgawi) ke ranah profan Kota Sukabumi. Masyarakat sebagai bagian dari rakyat (pemilik kedaulatan tertinggi di negara ini) selama dua tahun paska Pilkada atau terpilihnya pemimpin hasil pemilihan langs…

Gerakan Pemasyarakatan Minat dan Budaya Baca di Tahun Politik

Pertemuan beberapa orang dari unsur pemerintahan dan masyarakat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Sukabumi dua hari lalu merupakan terobosan baru; bagaimana peran serta pemerintah bersama masyarakat dalam meningkatkan minat dan budaya masyarakat. Gerakan literasi di berbagai bidang memang telah diupayakan melalui kegiatan-kegiatan keliterasian baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarkat.

Pemasyarakatan minat dan budaya baca bukan berarti masyarakat dituntut atau dipaksa agar menjadi masyarakat yang hanya gemar membaca an sich. Membaca dan aktivitas literasi lainnya harus memasyarakat, bukan hanya dikenal term dan istilahnya, tetapi setiap orang diharapkan dapat menyadari bahwa kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan merupakan bagian dari literasi.

Minat dan budaya baca sampai saat ini sebetulnya tidak lagi menjadi masalah serius. Masyarakat pascareformasi merupakan masyarakat yang harus diakui telah melek huruf. Hal terpenting dari kegiatan literasi di era Revolus…

Peran dan Posisi Kita di Era Revolusi Industri 4.0

Peradaban manusia sebagai kondisi perubahan dari pola hidup yang dipenuhi  oleh kebiadaban ke cara hidup yang lebih beradab sering dipandang oleh manusia melauli pendekatan hal yang kasat mata. Hal tersebut begitu lumrah sebab bagaimana pun perubahan besar-besaran dalam kehidupan manusia selalu bersinggungan dengan nilai-nilai positif dan matematis. Lebih dari itu manusia selalu memandang setiap persoalan terutama kemajuan merupakan hal yang harus dapat diukur, diuji, dan dipraktikkan melalui cara-cara logis.
Era kebiadaban memang tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia sebab kedua entitas antara biadab dan beradab merupakan satu kesatuan yang utuh seperti hitam dan putih atau terang dan gelap. Hal mana yang paling dominan apakah biadab atau beradab itu yang akan menjadi penentu apakah sebuah zaman disebut sebagai era kebiadaban atau era peradaban. Jika dipandang secara subyektif oleh kondisi sekarang di mana kita hidup, sudah tentu zaman sebelum manusia mengenal tulisan, era…

Seorang Dokter Desa

Membaca karya-karya Franz Kafka bagi saya pada awalnya dapat dikatakan cukup berat karena karya-karyanya tampak harus disikapi bukan saja secara serius namun kita diajak untuk berpikir mendalam. Absurditas sebagai sebuah term yang sering digunakan oleh para eksistensialis terus menampakkan dirinya dalam tulisan Kafka baik yang mengalir lembut atau tulisan-tulisan yang meledak-ledak. Kehidupan  diakui atau tidak memang selalu beririsan antara apa yang kita anggap sederhana, rumit, logis, takhayul, puncaknya tampak sering absurd.
Cara pandang Kakfa yang menghadirkan absurditas dalam karya-karyanya dipengaruhi oleh alam dan lingkungan di mana dia hidup. Panggung sejarah manusia mencatat dua abad pascaaufklarung, pada abad ke 19 dan awal abad ke 20 merupakan fase benturan berbagai ideologi dan paham. Ideologi baik yang berlandaskan keyakinan atau sains menjamur dengan berbagai varian dan pandangan-pandangan dari pengikutnya. Konflik berkepanjangan antara kelompok agamawan dan para sainti…

Sukabumi dan Tritangtu (2)

Tritangtu dalam Budaya Sunda merupakan sebuah konklusi-meditatif yang telah dicetuskan oleh para leluhur atau karuhun Sunda. Totalitas dalam kehidupan merupakan ciri utama konsep ini. Pembagian masyarakat menjadi tiga kelompok dilakukan bukan untuk membedakan melainkan untuk meneguhkan posisi dan jati diri setiap individu. Resi, Rama/Sepuh, dan Ratu menjaditiga lembaga , berperan dalam mensejahterakan masyarakat; Ngaping, Ngajaring, Ngaheuyeuk. Ngasah, Ngasuh, dan Ngaasih.


Pola budaya seperti ini lahir sebagai pengejawantahan kebersamaan dan persamaan manusia dengan kosmos (alam raya). Manusia Sunda bisa dikatakan sebagai kelompok tradisional, dikatakan seperti itu memang wajar karena secara historis, akar kebudayaan dan peradaban dunia ini berasal dari satu sumber dan ajaran, sebagai software di alam semesta ini. Software atau perangkat lunak akan dikatakan sebagai perangkat lunak terpercaya ketika ada kesinambungan antara hardware (Kosmos) dengan software-nya (Mikro-kosmos). Jika ter…

Cerpen: Hansip Obet

Aku tulis di tahun 2005
Kalau ditanya siapa orang paling lucu di Kampungku? Semua orang akan mengarahkan telunjuknya kepada lelaki berwajah licin seperti lilin, hidung mancung seperti hidung orang bule, kepala cepak seperti tentara, postur tubuh jangkung kecil seperti tiang telepon, dialah Hansip Obet. Semua orang  Kampung mengenal benar sosok lelaki jangkung ini.
Aktivitas kesehariannya hanya duduk-duduk di pos ronda, membawa alat pemukul berwarna hitam, pastilah kalian tahu alat seperti ini sering dipakai oleh satpam-satpam itu, apalagi kalau di rumah kalian memiliki satpam penjaga. Orang kadang tidak mengerti, kok bisa ya seorang manusia duduk dari pukul delapan hingga menjelang "lohor" di pos ronda tanpa beridir-beridiri? Bahkan tanpa  berbicara. Mengenai kopi dan rokok? Syukurlah di dekat pos ronda itu tinggal Haji Hamid, keperluan apa pun yang dibutuhkan Hansip Obet disediakan olehnya. Ya, kalian memang sudah bisa menyimpulkan, rumah Haji Hamid yang terletak di pinggir j…

Sukabumi dan Tritangtu

Memperbincangkan atau membicarakan Sukabumi memang selalu tidak akan pernah ada habisnya. Hal itu mungkin saja disebabkan oleh dua hal; pertama, ada sisi-sisi keunikan dari Kota Sukabumi yang belum terjamah bahkan sama sekali belum tergali oleh kita. Kedua, bisa jadi obrolan dan diskusi panjang tentang Sukabumi ini hanya sebatas obrolan ‘warung kopi’, di mana saja, jenis obrolan ini memang tidak akan pernah kering, terus-menerus dilakukan dan diwariskan dari generasi ke generasi, masalah tempat tidak menjadi soal.

Pembicaraan seputar Sukabumi, konten obrolan biasanya mengupas persoalan mendasar tentang keberadaan Sukabumi. Tentang Sukabumi dan perjalanan panjang yang menyertai sejarah asal-usul dan dinamika yang berkembang di wilayah ini. Warga Sukabumi, baik yang berada di Kota atau Kabupaten setelah reformasi digulirkan telah tergugah untuk menggali kembali aspek-aspek lokal yang menyertai kehidupan mereka setelah sekian lama dikungkung (baca: diborgol) oleh sistem yang diciptakan …

Jurnal 1: Bekerja di Pemkot Sukabumi

Dulu memang tidak pernah terbersit bekerja di lembaga pemerintah, misalnya kantor kelurahan, kecamatan, atau lembaga lainnya yang berhubungan dengan administrasi perkantoran. Menjadi pendidik juga saya pikir sudah terlalu mewah. Ada hal absurd, apakah tenaga pengajar dikategorikan sebagai jenis pekerjaan atau semacam para pahlawan sebutan bagi mereka yang telah berjasa kepada negaranya? Lupakan semua itu.
Paska Penyelenggaraan Pilkada Kota Sukabumi 2018, Kang Andri Hamami sebagai calon Wakil Wali Kota yang berpasangan dengan Kang Fahmi meraih perolehan suara tertinggi dibanding calon lainnya. Beberapa teman pernah berasumsi, saya sudah dipastikan akan diajak bergabung oleh Kang Andri bekerja di Pemkot Sukabumi. Bagi saya pribadi, karena telah lama berhubungan bail dengan Kang Andri Hamami, tidak menjadi soal ditempatkan sebagai karyawan atau apapun oleh beliau. Yang jelas, sejak hari Senin kemarin, saya telah mulai "ngantor" di bagian Sekretaris Pribadi Wakil Wali Kota Sukabu…

Hari Guru Sedunia

Hari Guru Sedunia diperingati setiap tanggal 05 Oktober sejak tahun 1994. Hari Guru Sedunia dilahirkan sebagai implementasi kepedulian dunia melalui lembaga pendidikan internasional (Education International) terhadap perjuangan dan peran vital para guru di dunia. Buah dari kebijakan dunia internasional terhadap hal ini tentu saja telah dapat dirasakan oleh para guru, termasuk guru-guru yang ada di Indonesia. 
Sebagai contoh hal di atas, sejak tahun 1994 – saat itu penulis masih duduk di bangku SMP- Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis di bidang pendidikan. Ikhtiar dari pemerintah ini lebih tepat disebut sebagai keberpihakan kebijakan  pemerintah (political will) kepada para guru. Di awal fajar reformasi terbit, pemerintah sangat mendorong agar para calon guru yang dihasilkan dari perguruan-perguruan tinggi, misalnya; UPI dapat mengisi kekosongan sekolah-sekolah di pedalaman dan wilayah terpencil dikarenakan sangat kekurangan tenaga pendidik.
Harus diakui…

Relasi Seni, Budaya, dan Ekonomi Kreatif

Seminar yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Sukabumi dengan judul besar: Relasi Seni, Budaya, dan Ekonomi Kreatif di Sukabumi merupakan gagasan cerdas untuk mensinergikan tiga elemen penting dalam kehidupan di wilayah urban; seni, budaya, dan ekonomi. Sebagai kota pelayanan jasa terpadu di bidang jasa, pendidikan, dan kesehatan tentu saja sangat memerlukan satu sinergitas setiap unsur penunjang eksistensi kota dalam skala urban. Bagi kota-kota yang telah dapat dikategorikan sebagai wilayah urban, kosa kata lama seperti seni dan budaya telah mengalami pergeseran secara evolutif dan merambah ke ranah ekonomi kreatif.
Sebenarnya, jika kita merujuk kepada teori sosial, kesenian sendiri merupakan bagian dari tujuh unsur kebudayaan. Artinya, seni dan hasil kreasi manusia darinya merupakan bagian dari kebudayaan yang pada akhirnya akan membentuk sebuah peradaban. H. Achmad Fahmi selaku Wali Kota Sukabumi memaparkan –dalam seminar tersebut- Kota Sukabumi h…

Atikan tina Kisah Nabi Nuh

Ku ayana balahi saperti lini, banjir, gunung bitu, jsb nandakeun: alam (jaghat gedé) jeung manusa (jaghat alit) salian miboga hubungan dalit ogé kacida lemah (rapuh). Nalika eusi haté manusa panasan, gampang kasundut, jeung loba mintonkeun pacogrégan, alam salaku jaghat gedé ogé bakal mintonkeun hal sarua jeung diri manusa.
Ti jaman Nabi Nuh jeung mangsa Gilgamesh kénéh kamandang kana ayana balahi alam kabagi kana tilu golongan, aya anu nyalahkeun ka Alloh saolah balahi tumiba mangrupa siksa (téologis), aya anu nyebutkeun balahi kusabab kalakuan manusa-manusa kénéh, jeung aya anu pragmatis (how) balahi kudu diréngsékeun ku tarékah nyalametkeun korban.
Niténan kana sajarah Nabi Nuh, jauh saméméh banjir tumiba, Nabi Nuh geus ngalakonan hal-hal pragmatis, kumaha cara mindahkeun manusa jeung sato ti hiji tempat ka tempat séjén sangkan tetep jumeneng (survive). Nabi Nuh jeung umatna teu nyalahkeun Pangéran, ogé teu nyalahkeun manusa anu henteu ngagugu kana ajakanna. Henteu nyebutkeun yén ban…

Kang Warsa - 2014