Langsung ke konten utama

Creative Hub

Dua kota yang saya kunjungi  dua hari lalu yaitu Jakarta dan Bandung  dapat dikatakan telah beberapa langkah lebih maju dalam hal pembangunan dan penyediaan fasilitas yang dapat meningkatkan kreativitas warga, kelompok UKM, dan komunitas yang ada di dua kota tersebut. Jakarta dan Bandung telah memiliki inkubator penetasan pelaku usaha ekonomi kreatif dalam wadah Jakarta Creative Hub (JCH) dan Bandung Creative Hub (BCH). Sudah tentu, keberadaan dua wadah ini patut dicontoh oleh kota dan kabupaten lain, khususnya Kota Sukabumi. 

Jakarta Creative Hub dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas prakarsa Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) kemudian dilanjutkan oleh Anis Baswedan. Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Ekonomi (Disperindagkop) yang membidangi UKM sebagai pelaksana program kreatif ini beberapa tahun lalu menawarkan kerjasama kepada beberapa perusahaan –terutama pemilik gedung di Graha Niaga Thamrin. Selanjutnya, tawaran kerjasama tersebut berbuah CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan diberikan kepada Pemprov DKI Jakarta dalam bentuk penggunaan beberapa ruangan di lantai satu  gedung tersebut untuk mewujudkan Jakarta Creative Hub.

Keberadaan Jakarta Creative Hub merupakan hal bagus sekaligus menarik bagi keberlangsungan dan tumbuh-kembangnya kelompok usaha dan komunitas kreatif di Jakarta. Mereka dikumpulkan dalam satu wadah, terhubungkan satu dengan yang lainnya, diberikan edukasi bagaimana agar sebuah kelompok usaha dan komunitas kreatif dapat terus tumbuh dan menghasilkan 'profit' untuk menunjang keberlangsungan keberadaan kelompok dan komunitas. 

Beberapa pelaku Usaha Kecil dan Mikro dari berbagai sub-sektor dapat dengan mudah mengajukan permohonan penggunaan sarana dan prasarana Jakarta Creative Hub misalnya; ruang pelatihan, ruang workshop, kantor pemasaran, ruang kelas, dan ruang display untuk "memamerkan" hasil produksi setiap pelaku UKM dan komunitas. Lebih dari itu, fasilitas-fasilitas yang ada di Jakarta Creative Hub juga dapat digunakan oleh setiap warga DKI Jakarta secara gratis dengan beberapa prosedur yang telah ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Disperindagkop bidang UKM. 

Untuk Kota Bandung, Kang Emil telah menetaskan ide dan gagasan cerdas untuk menopang tumbuh kembang ekonomi kreatif para pelaku usaha dan komunitas dengan membangun Bandung Creative Hub (BCH), sebuah gedung 5 (lima) lantai dengan arsitektur 'futuristik'. Ide cerdas Kang Emil saat menjabat sebagai Walikota Bandung bermula dari proses inkubasi ide dan gagasan warung kopi dari setiap komunitas di Bandung. Mereka secara rutin menyelenggarakan work-shop, pertemuan, dan focus group discussion (FGD) yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Bandung. Kegiatan seperti itu berjalan selama hampir dua tahun.

Pada tahun 2016, Bandung Creative Hub mulai dibangun dan diselesaikan dalam waktu 90 hari kerja. Ruangan-ruangan dan fasilitas yang ada di dalamnya dapat digunakan oleh warga Kota Bandung. Sebuah Auditorium, ruangan meeting, perpustakaan, animasi, photografi, audio-visual, game developer, dan wifi corner selalu dipenuhi oleh pengunjung. Beberapa fasilitas dan pelayanan di gedung BCH ini masih terus dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Kota Bandung yang membidangi ekonomi kreatif (Ekraf).

Beberapa bulan lalu, saaat penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Sukabumi tahun 2018, penulis termasuk salah seorang yang terlibat dalam penyusunan visi, misi, dan program, Pasangan Calon Fahmi-Andri (Faham) menawarkan ide pembangunan Sukabumi Creative Hub kepada warga kota. Program ke depan Fahmi-Andri seperti ini merupakan hal baru  yang ditawarkan selama masa kampanye kepada masyarakat karena dalam penyelenggaraan Pilkada sebelumnya gagasan baru (inovatif) sama sekali tidak dimunculkan oleh setiap pasangan calon.

Munculnya program yang bersifat kreatif ini dipengaruhi langsung oleh perkembangan dan kemajuan teknologi – informasi, pola pikir warga kota, kebutuhan warga terhadap apa yang dihasilkan oleh teknologi – informasi harus mudah diserap dan diperoleh, serta tekad baik pemerintah dalam men-sinergikan dan menyatukan kekuatan kelompok usaha kecil dan komunitas kreatif di Kota Sukabumi dalam satu wadah.

Pada tahun 2015, gagasan mewujudkan Sukabumi sebagai sebagai "Smart-City" atau kota pintar dimunculkan oleh Pemerintah Kota Sukabumi. Setiap program yang akan dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus terintegrasi untuk mewujudkan "Smart-City". Sebagai sebuah pemantik, hampir setengah areal alun-alun Kota Sukabumi dijadikan '"Taman Digital". 

Keberadaan "Taman Digital" itu sendiri – karena baru berbentuk embrio Smart City – telah mengundang perdebatan warga kota, dibahas secara serius dan khusus oleh beberapa komunitas di Sukabumi baik di ruang nyata atau di dunia maya. Pembicaraan panjang terhadap keberadaan "Taman Digital" muncul karena ada sebuah masalah. Taman yang dibangun oleh anggaran CSR sebuah BUMN, bagi beberapa komunitas, sama sekali belum menghadirkan wajah atau wujud digital yang sebenarnya. Frasa "Taman Digital" harus mencerminkan pernak-pernik dan fasilitas Hi-Tech yang dapat digunakan oleh warga Kota Sukabumi. Rekonstruksi dan evaluasi keberadaan Taman Digital sudah tentu telah menjadi salah satu pekerjaan rumah  Walikota dan Wakil Walikota terpilih  agar keberadaannya benar-benar terhubung dengan program pembangunan Sukabumi Creative Hub.  

KANG WARSA
Tim Riset dan Data FAHAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014