Langsung ke konten utama

Kita adalah Manusia

Mayoritas kaum teroris sangat wajar sering disangkutpautkan dengan gerakan  kaum  Islam radikal paska perang dingin. Hal ini diakibatkan oleh: Pertama, konstelasi politik internasional telah berubah haluan dari Perang Dingin antara Kekuatan Kapitalisme Amerika dan sekutu-sekutunya dengan kekuatan Komunis Soviet dan negara-negara satelitnya. Perubahan haluan ini telah direkayasa baik melalui ramalan atau prediksi para futuris, paska keruntuhan Komunisme, Barat dengan kekuatan kapitalisme-nya akan merangsak maju dan membenturkan diri kepada keuatan negara-negara berkembang di wilayah Asia-Afika (Negara penghasil sumber daya alam terlengkap di dunia), tanpa kecuali Indonesia.

Kedua, di dalam tubuh umat Islam sendiri, telah terjadi rangkaian friksi pemikiran tentang Islam dan Keislaman itu sendiri. Perseteruan kekuatan dan pengkubuan dalam tubuh umat Islam ini memang telah terjadi jauh sebelum negara-negara bangsa berdiri. Perpecahan di dalam tubuh umat Islam setelah wafat Rosulullah entah itu disebabkan oleh sikap ashobiyyah, chauvinisme, dan motif lainnya, sampai berlanjut kepada dinasti-dinasti Umayyah dan Abasiyyah merupakan percikan politik yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan ajaran Islam. Namun, sejarah yang dipenuhi oleh darah itu selalu saja diatasnamakan oleh sekelompok umat Islam sebagai bagian dari ajaran Islam itu sendiri. Padahal, ajaran-ajaran Islam sama sekali tidak pernah ditegakkan melalui jalur politik, Islam telah menyebar melalui madrasah-madrasah, pengajian secara interpersonal, dan pendekatan-pendekatan sufistik.

Karen Amrstrong menyebutkan terorisme merupakan sebuah pemikiran yang lahir dari rahim kapitalisme. Tumbuh subur tidak hanya dalam satu umat, tetapi ada di setiap celah umat mana pun. Kaum radikalis dan teroris dari umat Islam secara sadar mereka telah memasuki ranah peperangan internasional paska Perang Dingin dengan alasan sebagai bangsa tertindas dan harus melawan kekuatan Amerika dan Eropa yang nota-bene ditafsirkan sebagai kekuatan kaum kafir. Padahal, perlawanan yang seharusnya diberikan oleh umat Islam menurut Ziauddin Sardar, lebih pada bagaimana pengetahuan dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan ditingkatkan kembali di dalam tubuh umat. Dengan kata lain, senjata tidak harus dilawan dengan senjata, melainkan harus dilawan dengan tameng agar senjata tersebut tidak berhasil menembus pertahanan umat.

Walhasil, kaum radikal dan teroris telah terjebak oleh pemikiran-pemikiran yang jelas-jelas berusaha membelokkan sejarah peradaban dunia. Kita cenderung akan merasa sebagai tokoh besar saat kisah Perang Salib yang berjilid-jilid itu diceritakan. Emosi kita langsung meluap-luap bahwa semua orang Kristen siapa pun mereka merupakan musuh umat Islam yang harus diperangi. Faktanya tidak demikian. Perang yang terjadi di masa lalu lebih banyak disebabkan oleh pengkhianatan terhadap konsensus dan kesepakatan bersama. Perang di Khaibar tidak pernah akan terjadi jika Bani Nadlir tidak mengkhianati kesepakatan antara mereka dengan Rosulullah. Toch, suku atau klan-klan Yahudi yang ada di wilayah Arab saat itu sama sekali tidak melakukan persekutuan dengan klan Nadlir. Perang Salib  tidak akan pernah terjadi jika Paus Urbanus II tidak merestui Expedio Sacra  mengutus pasukan tempur ke Yerussalem untuk menghancurkan penjajahan dari umat Islam atas tanah suci. Begitu juga sebaliknya, jika saja umat Islam di dalam membebaskan tanah suci (al-Quds) di masa lalu tanpa melibatkan pasukan tentara kecuali melalui jalur madrasah, pengajian, dan kajian keilmuan, sudah dapat dipastikan Perang Salib yang berjilid-jilid itu tidak akan pernah terjadi.

Kaum radikalis dan teroris dari setiap agama sering menjadikan sejarah di masa lalu sebagai cermin, bukan pelajaran. Seolah, peperangan akan terus berkecamuk dengan latar dan setting yang sama antara di masa lalu dengan sekarang. Cara merefleksikan sejarah di masa lalu ke masa sekarang ini telah menghasilkan citra aksen, kekerasan akan terus disebarkan oleh setiap kubu, baik oleh mereka yang mengklaim diri sebagai polisi dunia atau oleh mereka yang telah diberi label kaum teroris. Korban dari pencitraan aksen sejarah peperangan yang berdarah-darah itu adalah manusia-manusia tidak berdosa, anak kecil, manusia-manusia polos yang sedang mengarungi kehidupan di belantara rimba yang gelap ini.

Padahal, sejarah hingga ayat-ayat di dalam kitab suci itu sama sekali tidak bersifat kaku dan rigid. Ayat yang menjelaskan tentang perang di dalam al-Quran bukan harus ditafsirkan secara letter-lerk, di mana saja kita bertemu dengan orang 'kafir' kemudian genderang perang harus ditabuh, tidak demikian. Ayat-ayat tentang perang di dalam al-Quran merupakan pengajaran kepada kita, bagaimana cara manusia menghargai kesepakatan bersama yang telah dibuat agar tidak ada pihak mana pun yang dirugikan. Pertikaian sering terjadi karena ada aturan main yang dilanggar dan dikhianati. Kelompok Band asal Inggris, Queen di dalam lagu berjudul Play The Game menyebutkan: It's so easy, when you know the rule… segalanya sangat mudah jika kalian mengetahui aturan main. Bahkan, di dalam ayat tentang perang juga sama sekali tidak akan kita temui bagaimana cara kita membunuh sesama.

Dalil yang mengisahkan perang tidak hanya kita jumpai di dalam pemberitaan/kisah-kisah al-Quran. Injil dan Torah mengisahkan pertempuran antara Musa dengan Fir'aun, David dan Goliath, Samson dengan Bangsa Pilistin, murid-murid Yesus yang ditindas oleh kekejaman Herodes. Sejarah agama-agama lain pun tidak pernah kering dari gelimang darah, konsili-konsili harus ditebus oleh banyak tumbal. Sejarah abad kegelapan –saat Tuhan seolah-olah sedang tidur- adalah lahan kekerasan yang dilakukan oleh manusia yang membajak ayat-ayat Tuhan demi kelanggengan kekuasaan dirinya. Hal yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh agama sebagai penebar dan penabur kasih sayang.  

Berbagai kasus pengeboman oleh kaum radikal dan teroris di Indonesia sejak satu setengah dekade ini karena dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal dalam wadah JI, JAD, NII KW IX, dengan sangat mudah diframingkan terhadap umat Islam sendiri. Padahal, mayoritas umat Islam sama sekali menentang setiap kekejian dan teror yang telah menyebakan kehancuran sendi-sendi kehidupan. 

Umat Islam harus menentang kekerasan dan teror yang mengatasnamakan dan membajak nama Tuhan, ini merupakan sebuah keniscayaan. Kehidupan beragama dan keberagaman merupakan sunnatullah yang tidak dapat ditawar-tawar, bahwa kita memang dilahirkan untuk berbeda baik fisik, tabiat, dan keyakinan. Persamaan mendasar yang dimiliki oleh manusia hanya satu: kita adalah manusia mahluk yang bertuhan. 

KANG WARSA
GURU MTS RIYADLUL JANNAH
ANGGOTA PGRI KOTA SUKABUMI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014