Langsung ke konten utama

Menilai Baik dan Baik

Manusia sebagai subyek sering tidak terlepas dari penilaian baik dan buruk terhadap segala sesuatu. Kita akan memandang baik ketika melihat dan mendengar bahwa suatu hal benar-benar telah dianggap baik secara consensus dan disepakati bersama. Lahirnya sikap jujur, mandiri, ajeg, dan sifat-sifat lainnya yang mengandung kebaikan tidak terlepas dari nilai-nilai yang disepakati bersama.

Dengan menilai sesuatu berdasarkan kebaikan pada kutub kedua akan melahirkan pandangan buruk terhadap hal yang telah disepakati bahwa sesuatu itu bersifat buruk. Seorang guru akan mengecap Si Akbar sebagai siswa nakal ketika melakukan perbuatan yang telah disepakati sebagai sebuah keburukan, misalnya tawuran, sering bolos, dan tidak bersosialisasi dengan teman sekelasnya. Dalam term keagamaan lahirnya dualitas pandangan ini telah mempolarisasikan dua jenis manusia Si Soleh dan Si Toleh.

Pandangan baik dan buruk itu tidak hanya disematkan kepada segala sesuatu yang berada di luar diri kita, terhadap persoalan yang ada dan menimpa kepada diri kita pun tidak terlepas dari polarisasi atau pengkutuban. Sesekali kita sedang dihadapkan pada sebuah kebaikan dengan standar penilaian berdasarkan hal-hal yang telah kita raih seperti dompet disesaki oleh uang bergambar Soekarno-Hatta, usaha berjalan lancar, keuntungan diraih dengan mudah, dan melejitnya potensi diri kita dibandingkan orang lain. Kita menilai; kebaikan sedang memihak kepada kita.

Pada saat yang lain, tiba-tiba kita dihadapkan pada permasalahan yang sangat pelik, perusahaan bangkrut, gagal panen, dalam term Kasundaan : nété semplék nincak semplak, sering sakit-sakitan, dan hal-hal lain yang benar-benar membuat kita seolah menjadi manusia paling rugi di dunia ini. Dengan tanpa ragu kita menyebut: keburukan sedang berpihak kepada kita.

Pada akhirnya, penilaian baik dan buruk terhadap segala sesuatu yang menimpa kita menyebabkan kita atau manusia lainnya terjebak pada dugaan bahwa segala sesuatu merupakan keburukan saja. Padahal jika dicermati dengan sebijak mungkin, pada dasarnya tidak ada keburukan apa pun yang menimpa diri kita. Tuhan telah menciptakan dan mendesain segala sesuatu berdasarkan kebaikan. Meskipun satu hal dianggap merupakan keburukan bagi diri kita pada dasarnya merupakan kebaikan, sebab keburukan itu sendiri sebetulnya bukan karena keburukan itu ada, melainkan hilangnya kesadaran diri kita terhadap kebaikan. Seperti kegelapan, bukan karena gelap itu ada melainkan tidak adanya cahaya dalam sebuah ruang.

Dua kutub yang tampak saling berseberangan itu antara baik dan buruk merupakan sebuah scenario dari Tuhan yang telah mendesain segala sesuatu berdasarkan hitungan sistematis agar tetap terjaga kestabilan di semesta. Tanpa adanya orang baik sudah dapat dipastikan dunia akan akan hancur dan rusak dengan cepat, begitu juga sebaliknya jika dunia hanya diisi oleh orang-orang baik saja dunia akan mati dan mandek, kemudian perputaran kehidupan tertimpa.

Terhadap masalah ini, setiap keyakinan dan agama menawarkan sebuah solusi yang sangat jitu, kita diharuskan menilai segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri kita sebagai hal yan selalu baik. Artinya, penilaian terhadap baik dan buruk harus diubah menjadi baik dan baik. Pada akhirnya, manusia yang baik adalah manusia yang telah dapat memerankan scenario yang telah diciptakan oleh Tuhan dengan tidak menyalahkan Tuhan dan hal-hal di luar diri kita.

Peradaban-peradaban kuno yang telah menghasilkan berbagai ajaran telah mendeteksi sikap dan nilai yang dihadapi oleh manusia. Lahirnya pandangan baik dan baik terhadap segala hal merupakan cikal bakal ahimsa atau semangat anti kekerasan dan menyalahkan pihak lain. Gagasan ahimsa ini terdapat di dalam hampir setiap agama, bukan hanya Hindu dan Budha. Islam telah mengajarkan kasih sayang Tuhan mengalahkan murka-Nya. Jika manusia menyadari bahwa setiap persoalan merupakan sebuat script dan rancangan dari Tuhan maka sudah dipastikan manusia akan hidup berdampingan, saling menghormati, dan menghargai tanpa melihat perbedaan latar belakang.

Penilaian baik dan baik terhadap segala sesuatu itu mengingatkan saya pada tulisan A.S Laksana yang mengupas akustik suara, lahirnya beragam suara baik sumbang dan merdu di alam dan kehidupan ini telah melahirkan dengung jika suara-suara itu disatukan, karena memang demikian, segala sesuatu berasal dari satu suara utama. Satu pikiran utama, causa prima.

Sesumbang apa pun sebuah suara jika didengarkan dengan seksama akan menghasilkan keindahan. Beragam suara binatang malam di areal persawahan telah melahirkan harmoni semesta bahwa suara-suara itu pada dasarnya merupakan satu kesatuan meskipun tidak sama, bukankah alam telah mengajarkan hal-hal sumbang dalam hidup? Arti sumbang itu sendiri artinya ikut berpartisipasi.

Kang Warsa | Guru MTs Riyadlul Jannah dan Anggpta PGRI Kota Sukabumi
Artikel ini dimuat oleh Radar Sukabumi, Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014