Langsung ke konten utama

Sukabumi Kota Campernik

Seminggu lalu, seorang teman menanyakan sebutan apa yang pantas disematkan kepada Kota Sukabumi dalam Bahasa Sunda? Secara spontas saya menjawab : Gunakan saja kata campernik. Campernik dapat dielaborasi atau dijabarkan menjadi kata-kata yang lebih banyak misalnya; Cantik, Menarik, Profesional, Edukatif, Relijius, dan Unik. Memang terlalu panjang, namun ketika kata campernik ini dimaknai secara lugas, ia memiliki arti mungil dan cantik, sebuah sebutan yang pantas disematkan kepada sebuah kota kecil seperti Kota Sukabumi.

Siapapun -sudah pasti- dapat mereka-reka jargon, slogan, hingga visi dan misi untuk Kota Sukabumi ini. Selama beberapa decade, sebutan menarik dan selalu melekat dengan Sukabumi yaitu kota mochi, sebab dari kota inilah mocha dijadikan penganan khas dan sering dijadikan oleh-oleh baik oleh wisatawan domestic bahkan oleh orang Sukabumi sendiri.

Sebutan campernik merupakan hal baru jika disematkan untuk sebuah kota seperti Sukabumi meskipun kata ini sendiri sebetulnya telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat Sunda, sebuah kata sifat untuk menyebut seorang wanita atau benda yang benar-benar dapat memikat dan menarik perhatian orang lain. Kata ini, meskipun memang sangat familiar di Tatar Sunda, tetapi merupakan kata yang jarang diucapkan kembali, masyarakat akan lebih memilih menggunakan kata "geulis" atau cantik untuk menyebut seorang wanita berparas ayu.

Kata campernik lebih banyak digunakan oleh masyarakat rural atau perdesaan, pada tahun 70-90an orang-orang di perdesaan sudah tentu terbiasa mengatakan kalimat seperti ini: Duh, Si Eneng mah atuh da kembang desa, campernik jeung solehah deuih (Duh, Si Eneng kan bunga desa, cantik dan baik lagi). Kata campernik memang jarang digunakan untuk menyebutkan sebuah barang yang bagus dan menarik, ia merupakan kata khusus untuk manusia.

Mengingat Kota Sukabumi merupakan sebuah kota yang terbilang kecil jika dibandingkan dengan Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Bogor, maka sebutan campernik untuk kota ini memang pantas. Beberapa tahun lalu, baik dilakukan oleh Pemerintah Kota atau oleh elemen-elemen masyarakat, slogan yang disematkan kepada Sukabumi belum se-sederhana kota-kota lain, misalnya Cianjur pernah menggunakan slogan Beriman, Bandung Berhiber. Di masa kepemimpinan H.M Muslikh Abusysukur (alm) slogan yang disematkan kepada kota ini diadosi dari jargon kasundaan reugreug pageuh repeh rapih, slogan ini tersemat secara umum di dalam logo Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sepuluh tahun lalu, Pemerintah Kota pernah mengemban visi Sukabumi sebagai kota berparadigma surgawi, pada fase ini Pemerintah Kota Sukabumi mengharapkan agar Sukabumi dapat tampil seperti sebuah tempat yang memiliki citra surga, kesannya memang terlalu melangit bahkan mengawang-awang, di kemudian hari, fase yang terlalu melangit ini dibumikan di era pemerintahan Muraz menjadi Kota Rohmatan Lil-Alamin, meskipun secara Bahasa penggunaan kalimat ini masih terlalu umum.

Tidak sulit untuk meracik dan meramu kata-kata atau kalimat dalam bingkai slogan yang akan digunakan untuk sebuah kota. Hal tersulit adalah mengimplementasikan slogan dan jargon-jargon yang disematkan kepada kota tersebut. Masyarakat tidak ingin bingung, karena Kota Sukabumi -secara pars prototo- merupakan penghasil mochi, maka sebutan Sukabumi sebagai kota mochi telah menjadi hal umum dan digunakan secara luas baik oleh orang Sukabumi atau orang dari luar Sukabumi.

Saya sendiri sangat gamang dan masih ragu-ragu saat memberikan saran sebutan campernik untuk Kota Sukabumi, sebab sebutan campernik itu sendiri harus benar-benar memiliki kesesuaian dengan fakta yang ada, sejauh mana Kota Sukabumi ditata-kelola, dicintai oleh warganya, hingga menjadi sebuah kota berbudaya, edukatif, dan unik? Bagi orang Sukabumi sendiri sudah tentu berlaku pribahasa buruk-buruk papan jati, baik dan jelek merupakan kota kelahiran sendiri, Sukabumi tetap akan menjadi "tambatan hari" warganya. Orang-orang Anglo-Saxon pernah berkata: right or wrong is my country, sebuah pernyataan absolut kecintaan warga Negara terhadap negaranya sendiri.

Maka anggaplah, sebutan campernik untuk Kota Sukabumi ini merupakan sebuah bentuk rasa cinta dan bangga dari warga kota untuk kota kelahirannya.

KANG WARSA
Sukabumi, Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014