Langsung ke konten utama

Adu Renyom Felix Janda

Sengaja saya menggunakan istilah yang diambil dari Bahasa Sunda, adu rényom untuk memberikan beberapa catatan dan komentar terhadap perang kata-kata antara Felix Siauw dengan Abu Janda Al-Boliwudi di acara ILC beberapa hari lalu. Imbasnya tentu saja terhadap maraknya komentar beragam yang dilontarkan oleh para pengguna media sosial dari kedua kubu, kelompok penengah hanya terheran-heran saja sambil mengangkat bahu, kenapa orang-orang menjadi lebih larut dalam perang mulut atau lebih tepatnya perang komentar daripada harus mengerjakan hal yang lebih penting dari sekadar itu, misalnya membangun bangsa ini? Terlepas apakah komentar-komentar itu didasari atas dalil atau hanya ide yang keluar dari pemberi komentar tetap saja telah menghasilkan pertempuran sengit di dunia maya, lantas sama sekali tidak memberi dampak dan pengaruh terhadap kehidupan nyata.

Dengan bahasa sederhana dapat disimpulkan, perang kata-kata beberama menit setelah ILC ditayangkan dengan pokok masalah “Reuni 212” tidak lagi menyoal angka 212 itu, kecuali telah mengokohkan pandangan dua sudut yang berbeda antara keharusan mendirikan khilafah dengan yang tidak perlu atau tidak harus mendirikan khilafah. Felix sebagai seorang mualaf tidak berbeda dengan Abu Janda, seorang pengguna media sosial yang mencuat namanya pasca kegiatan teroris di Asia Tenggara yang dimotori oleh Abu Jandal, teroris yang ditengarai berafiliasi dengan gerakan al-Qaida Osama bin Laden. Pernyataan seorang Felix yang menyebutkan dia lebih memahami Turki dan Dinasti Ottoman sebelum dihancurkan oleh Mustafa Kemala Pasha pada tahun 1924 diteriaki sebagai bentuk kesombongan oleh kubu yang menolak khilafah. Begitu juga statemen-statemen Abu Janda dipandang ngawur oleh para penganut legalis-formal yang sering merasa nyaman jika setiap pernyataan disertai dengan dalil yang dikutip dari kitab suci.

Dengan sangat mudah, pertentangan dua kubu itu dinyatakan sebagai pertempuran tidak berkesudahan antara kaum legalis sebagai kelompok yang mengaku diri mereka penganut Islam yang kaffah dan kelompok etis sebagai penganut Islam yang dibumbui oleh sekulerisme. Cerita ini menjadi satu fragmen baru setelah satu abad lamanya terjadi perdebatan panjang antara dua kubu di tanah air, sejak pra kemerdekaan, jaman kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan. Umat Islam di berbagai negara –dengan kata lain sebagai negara-negara jajahan bangsa Eropa- di awal abad ke-20 berusaha memberikan formula atau rumus-rumus kehidupan sebagai bangsa yang tertindas, harus melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah, modal utama atau modal dasar yang disodorkan oleh sebagian besar para penggagas pembebasan adalah dasar-dasar pijakan teologis antara negara terjajah dengan negara penjajah. Bangsa terjajah sering menghubungkan jika penjajahan oleh orang-orang Eropa di Asia dan Afrika lebih dimotori oleh semangat perang salib, sebuah romantisme kelam yang terus dibahasakan dari generasi ke generasi oleh kedua kubu dengan mengesampingkan sejarah yang benar perang yang terjadi di abad ke-10 itu.

Demi melihat penderitaan umat Islam di negara jajahan maka sebuah kesimpulan disodorkan oleh orang-orang Islam konsep negara ideal dengan menjadikan syariat sebagai dasar berpijak kenegaraan maka sebuah bangsa akan bangkit dan dapat terlepas dari penderitaan akibat dari penjajahan yang dilakukan oleh kaum “kafir”. Jika merunut sejarah awal abad ke 20, pendirian organisasi-organisasi yang dimotori oleh para tokoh muslim seperti Sarekat Dagang Islam, Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah pendirian sebuah negara dan penegakan hukum atau syareat Islam sama sekali bukan menjadi tujuan organisasi-organisasi itu, mereka lebih cenderung mengupayakan pembentukan karakter bangsa, pemandirian ekonomi umat, perbaikan pendidikan dari umat Islam, dan penguatan bidang-bidang sosial lainnya. Tjokroaminoto disebut sebagai seorang bapak bangsa yang telah melahirkan tiga ideologi paling berpengaruh di negara ini; Islam, Nasionalis, dan Komunis.

Para tokoh perjuangan dari kelompok Islam berjuang sekuat tenaga bukan sekadar memikirkan pendirian negara Islam, melainkan mengupayakan etika-etika Islam benar-benar dapat mewujud di negara ini. Mereka sangat menyadari proses Islamisasi di Indonesia yang dilakukan oleh para penyebar Islam juga dilakukan dengan cara-cara yang santun, melalui tiga fase dari personal, komunal, hingga konstitusional. Bahkan saat kerajaan-kerajaan Islam telah berdiri di nusantara saja, para penyebar Islam tidak memberikan petunjuk atau arahan agar kerajaan benar-benar menegakkan aturan Islam secara legal formal, Islam telah dijadikan basis nilai dan moral yang mewarnai aktivitas kerajaan saja. Itulah alasan kenapa para founding father dari kelompok Islam tidak merasa kebakaran jenggot saat tujuh kata : Dengan Kewajiban Menjalankan Syareat Islam Bagi Pemeluknya digantu dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebab nilai tiga kata itu lebih mewakili secara keseluruhan sebagai implementasi dari Islam Rohmatan Lil Alamin.

Dari peristiwa sejarah itu dapat ditarik kesimpulan, kelompok Islam sebagai para founding father negara ini memang merupakan sekumpulan cerdik pandai yang telah benar-benar teruji sehingga dapat bersikap bijaksana dalam melahirkan pandangan dan konsep negara ini. Perlawanan terhadap negara yang sah justru dilakukan oleh kelompok-kelompok yang belum pernah teruji baik secara ketokohan atau keilmuannya, NII digagas oleh Kartosoewirjo dan diproklamirkan pada tanggal 7 Agustus 1948, Komunisme melakukan pemberontakan pada tahun 1965 dilakukan oleh para penganut ideologi komunis legalis, Republik Maluku Selatan (RMS) sebagai cikal bakal negara Sarani atau Nasrani di Maluku digagas oleh Soumokil pada tahun 1950 karena kedudukannya merasa terancam dengan berdirinya Negara Republik Indonesia. Kesimpulannya, kelahiran kaum pemberontak justru dilatarbelakangi oleh rasa takut dan merasa terancam jika eksistensi kelompok atau dirinya tersisihkan. Bukankah Bung Karno dan Kartosoewirjo itu teman akrab saat digembleng oleh Tjokroaminoto? Bukankah seorang Maramis yang menganut Kristen lebih bersikap toleran dibanding Soumokil sebagai seorang komprador yang lebih banyak mencicipi nectar atau madu manis kue pemberian Belanda di era kolonial? Sementara Thomas Matulessi, Martha Tiahahu sama sekali berjuang memerdekakan Maluku dari jerat keangkuhan para komprador?

Sebenarnya akan telalu jauh jika kita membuka lembar-lembar sejarah masa lalu secara global. Misalnya, umat Islam sendiri saya pikir masih jarang membaca sejarah fase kenabian dan pasca kenabian. Romantisme yang sering dihadirkan adalah masa-masa keemasan zaman kerasulan Nabi Muhammad SAW saja, seolah Rosululullah sebagai pendiri gerakan kenabian, revolusi, dan kenegaraan. Padahal tidak demikian, pandagan demikian itu dilahirkan dari sudut pandang kontemporer, sejarah dihadirkan tidak hanya untuk mengungkap fakta yang benar-benar terjadi dan berlangsung pada saat terjadinya sebuah persitiwa. Orang-orang Eropa akan terus-menerus menggemakan kehebatan seorang Columbus dengan tujuan meyakinkan bahwa seluruh Benua Amerika benar-benar merupakan tanah mereka dengan tanpa menyebut dirinya sebagai perampok yang mencaplok tanah milik orang Indian. Seperti halnya kisah kenabian, yang sering dibesar-besarkan oleh siapapun adalah peristiwa Futuh Mekah atau kemenangan atas Kota Mekah, bukan membuka fakta-fakta proses kenabian, bahagimana proses penguatan karakter para budak dan orang-orang miskin Mekah yang dilakukan oleh Rosulullah, bagaimana penumbuhan jati diri bangsa dalam menghibdari sistem feodalisme, bukan malah ingin melahirkan kembali feodalisme dan aristokrasi dengan skala lebih mendunia. Rosulullah sama sekali tidak pernah mencari para pengikut, justru sebaliknya, orang-orang Mekah sendiri yang datang mengunjunginya kemudian menanyakan setiap persoalan kehidupan. Begitu juga dengan para nabi hingga para wali, sama sekali terlepas dari sanjungan jika mereka benar-benar mencari pengikut dengan jumlah berjuta-juta, bagi para nabi dan wali atau penyebar Islam memiliki satu hingga dua belas orang sahabat saja sudah sangat cukup.

KANG WARSA
GURU MTS RIYADLUL JANNAH | ANGGOTA PGRI KOTA SUKABUMI

Artikel ini dimuat oleh Radar Sukabumi, Rabu 13 Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014