Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Mencari Format Ideal Pelaksanaan Pilkada

Oleh: Agung Dugaswara dan Kang Warsa (Anggota dan Media Center KPU Kota Sukabumi)
Ibarat "Vivere Pericoloso, demikian terkait pelaksanaan Pilkada pada tahun 2015 lalu. Bagaimana tidak, pelaksanaan Pilkada pada tahun tersebut diselenggarakan dalam kondisi yang serba tidak menentu baik secara regulasi maupun situasi politik secara nasional. Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 menjadi UU No 1 tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan serentak, masih menimbulkan beberapa persoalan, hal ini dikarenakan penerbitan Perpu pada waktu itu dilakukan secara mendesak dalam situasi politik yang cukup hangat. Sementara apabila dilihat situasi politik secara nasional, konflik internal partai politik menyeruak pada tahun tersebut, ini menimbulkan ketidakpastian tentang legalitas pencalonan bagi calon yang diusung oleh Partai Politik tersebut. Meskipun demikian, pelaksanaan pilkada serentak berhasil diselenggarakan.
Ada beberapa evaluasi terkait Pilkada 2015. Apabila kita perha…

Telaah Cerpen Jl. Asmarandana

JALAN ASMARANDANA: KETUA RT BERTITEL MAGISTER NAMUN GAGAL
(Telaah Terhadap Cerpen Kuntowijoyo)

Orang memperebutkan jabatan itu telah berlangsung sejak manusia memerankan lakon dalam panggung sejarah kehidupan ini. Berbicara soal jabatan, tentu ada yang dipinta atau ada yang direbut, namun pada sisi lain ada yang mendapatkannya sebagai hasil pemberian dari atasan. Apapun dan bagaimanapun cara jabatan diperoleh tetap saja hal tersebut merupakan amanah, amanah itu bisa jadi sebagai anugerah atau  juga bisa menjadi bencana. Arti amanah sendiri berarti hal yang bisa membuat orang lain menjadi nyaman karena memberikan kepercayaan secara penuh kepada yang diberi amanat.

Dulu, pemegang kunci kekuasaan di kampung biasanya para tokoh masyarakat. Sejak era reformasi telah terjadi pergeseran dalam memberi label kepada seseorang yang akan mendapatkan gelar tokoh masyarakat. Bisa jadi di zaman ini banyak tipe tokoh masyarakat, ada yang benar-benar tokoh, ditokohkan, bahkan tidak sedikit orang yang men…

Urang Sunda Anu Islam Antara Rasa Jeung Rumasa

Ku: Kang Warsa Sareng Caca Danuwidjaya Guru Basa Sunda MTs Riyadlul Jannah & SMAN 3 Sukabumi
Sing saha anu mindeng ngulampreng ka pilemburan, lain tanpa maksud jeung tujuan, da kabéh kalakuan jelama geus pasti kawengku ku pamaksudan. Bakal nénjo kumaha tangginasna urang lembur, geus tuturubun isuk-isuk, ka kebon atawa ka sawah. Lamun di dayeuh mah biasana ka kantor atawa tempat pagawéan geus pasti boga maksud jeung tujuan. Anu béda téh eusi dina pamaksudanna. Geus puguh lamun nénjo kahirupan jaman ayeuna mah, réa pisan eusi pamaksudan jalma. Nu jelas, asalna mah alus kabéh maksud jeung tujuan. Abah Uman méré ngaran ka budakna ku ngaran Aas, pamohalan boga maksud goréng dina méré ngaran ku kecap Aas éta. Sarua halna jeung saha baé anu sok ngulampreng ka pilemburan, geus pasti boga maksud alus, ngan sok jadi goréng nalika dibéré harti ku jalma, mangrupa réspon meureun tina naon anu dipilampah ku urang.
Teu kudu jauh-jauh ngulampreng ka pilemburan mah, lamun rék nu rada jauh umpamana…

Mantra Pejinak Ular: Tradisi dan Agama dalam Diri Abu Kasan Sapari

Membaca novel “Mantra Pejinak Ular” karya Kuntowijoyo tidak memerlukan pikiran mengada-ada, alur dan plot dalam novel ini begitu bersahaja, dan memang seperti itulah Pak Kunto, sering menyajikan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dipahami dalam karya sastranya. Lebih tepatnya jarang menggunakan kata yang tidak akan dipahami oleh pembaca atau lebih ekstrimnya kalimat-kalimat jangan menyusahkan orang lain. Kuntowijoyo merasa dirinya tidak seharunya memosisikan diri di tempat mentereng, meskipun dia bisa, karena sebagai seorang akademisi.
Tradisi dan agama begitu besar memengaruhi novel ini. Penamaan tokoh utama, Abu Kasan Sapari , merupakan perpaduan dua kebudayaan, Bahasa Arab dengan logat Orang Jawa dalam melafalkan kata dari bahasa asing. Kasan berarti Hasan, cucu Nabi saudara Husein, sapari berarti safari, bulan Safar. Di kampung-kampung bukan hanya di Jawa, di Tatar Pasundan pun kebiasaan ini telah lama berkembang. Seorang lelaki bernama Omid pada mulanya diberi nama Ahmid oleh ora…

Kebengkokan Mak Pekok

Banyak moralitas yang dihadirkan dalam beberapa karya sastra, hampir semua karya sastra tidak bisa mengelak masuknya unsur ekstrinsik tentang ini. Dua hal pada kutub berbeda antara moralitas dengan amoralitas, perjalanan dari dua kutub ini merupakan deviasi atau penyimpangan, dan pembengkokan. Unsur ekstrinsik dalam cerpen, novel, atau drama dan beberapa karya sastra tentu mengalir begitu saja disematkan oleh pengarangnya. Di luar kesadaran.
A.A Navis dalam cerpen Mak Pekok, tentu tidak mengharapkan tokoh seorang Mak Pekok pada akhir cerita memperlihatkan secara tajam bentuk penyimpangan moral dalam hidupnya. Dikatakan menyimpang karena orang normal tidak bisa menerima sikap seksualitas Mak Pekok saat menyetubuhi seekor kerbau. Di luar kerbau pun,  bisa jadi,  banyak binatang lain yang pernah dijadikan obyek kekerasan seksual oleh dirinya.
Perbuatan amoral secara individu dan patologi sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Fantasi yang lahir terjadi oleh beberapa sebab; pertama, sebagai s…

Monastisisme Liberal Khotbah di atas Bukit

Teeuw menilai novel Kuntowijoyo, Khotbah di atas Bukit merupakan novel ekstrim dan provokatif. Sementara itu, Y.B Mangunwijaya menyebutnya sebagai novel "magistral". Melalui novel ini, kita  diajak untuk merenungkan makna kehidupan, kebahagiaan, dan kebebasan.

Bagi penganut kristen yang taat dan rajin membaca kitabnya (Kristen Saleh), mereka dapat menemui cerita Khotbah di Bukit yang dilakukan oleh Yesus. Dalam Injil Matius pencerahan Yesus kepada orang-orang Israel dibahasakan dengan lugas. Pesan kenabian ini didominasi oleh bagaimana sikap manusia terhadap gemerlap dunia?

Ada benang merah antara isi  ajaran Yesus saat melakukan Khotbah di Bukit dengan novel Khotbah di atas Bukit , yaitu monastisisme, cara manusia hidup sendiri dan melepaskan belenggu dunia untuk meraih kebahagiaan lahir serta batin. Sejak Konsili Nicea pada abad ketiga, ajaran monastisisme dipegang teguh oleh para rahib dan pendeta-pendeta aliran ortodoks. Mereka hidup di dalam biara, lebih banyak menghabisk…

Tradisional Modern Dalam Pistol Perdamaian

‎Alam empiris biasa dituangkan ke dalam karya sastra, meskipun sastra sendiri tidak bisa lepas dari pengaruh berbagai ide dan gagasan cerdas. Saling  memengaruhi. Kuntowijoyo, kecuali sebagai seorang ahli sejarah, guru besar, beliau pun semasa hidupnya telah melahirkan karya-karya sastra dengan formula penyatuan antara tradisi yang masih berkembang dalam masyarakat dengan unsur modern. Tidak mengherankan, perpaduan antara nilai-nilai tradisional dengan modern tersebut disebabkan oleh latar belakang beliau sebagai akademisi dan Orang Jawa.
Gaya penyampaian dalam beberapa karya sastranya sangat sederhana, mudah dicerna, menggunakan ungkapan dan gaya bahasa "basajan"*), dan tentu saja sering diselingi oleh jebakan sastra. Contoh jebakan sastra yang biasa ditemui dalam karya sastranya yaitu Pak Kunto biasa menempatkan subyek sentral dalam beberapa cerita seolah terbaca oleh pembaca adalah diri Pak Kunto sendiri. 
Dalam Pistol Perdamaian, salah satu cerpen pilihan Kompas tahun 1996…

Sakola Sawarga

Ku: Caca Danoewidjaja sareng Kang Warsa
Guru B Sunda SMAN 3 & MTs Riyadlul Jannah Cikundul
Nilik  judul di luhur, katénjo pisan hiperbolikna, leuleuwihan teuing ngahubungkeun sakola jeung sawarga. Ieu seratan lain arék nyaimbangkeun antara sakola jeung sawarga, tapi seja ngorélasikeun, ihtiar atawa usaha naon anu kudu dilakukeun sangkan kaayaan sakola matak pikabetaheun keur sing saha baé, utamana keur pamilon atikan. Hartina, sakola kudu ngawujud jadi sawarga anu bisa ningtrimkeun, niiskeun, ngajauhan pacogrégan (saperti tawuran/papaséaan antara pamilon atikan hiji sakola jeung sakola séjénna), nepi ka bisa nyangreud para pamilon atikan betah tumaninah di sakola. Cindekna, sakola lain pangbérokan anu menjarakeun pangabisa, kamotékaran, jeung kahayang pamilon atikan.
Sakola geus aya ti baheula ogé. Nilik kana kecap mah, sakola diadopsi tina basa latin, scolae , anu boga harti waktu salsé. Sakola mangrupa hiji pranata sosial, dina mangsa awal mah dieusi ku rupaning kagiatan basajan …

Seni Pelajaran Mengarang Seno

Setelah libur panjang, biasanya para guru di tiap kelas akan memberikan tugas 'mengarang bebas' kepada para siswa. Ini telah menjadi pengalaman setiap siapapun yang pernah duduk di bangku sekolah. Mengarang bukan berarti mengada-ada tentu saja, sebab para wali kelas selalu menyuruh setiap siswa untuk mengarang tentang apa yang dilakukan dan dialaminya selama libur panjang. Macam-macam. Di era kejayaan gammeinschaft, budaya paguyuban, ciri khas karangan para siswa bisa ditebak,seragam, berkunjung ke rumah nenek.

Karangan bisa jadi rekayasa, bisa juga rekayasa yang dijadikan fakta. Jika diartikan secara tekstual, orang-orang jujur akan menemui kesulitan dalam mengarang. Karena orang jujur akan menuliskan dan menceritakan setiap peristiwa nyata yang dialami dalam kehidupannya. Itulah sebabnya, karangan dikelompokkan ke dalam genre fiksi.

Tapi, bukan berarti karena termasuk ke dalam fiksi kemudian mengarang ini dilakukan sebebas-bebasnya, keutuhan fiksi justru terlihat dari rasiona…

Realisme Dalam Lampor

Membaca sastra - seperti cerpen - memang tidak membutuhkan waktu-waktu tertentu atau khusus. Sebab cerpen adalah cerita meskipun fiksi, dia merupakan proyeksi kehidupan atau realitas keseharian kita. Tidak akan lahir sebuah fiksi tanpa realitas. Tidak akan mengenal kata damai jika kehidupan manusia dipenuhi oleh ketentraman. Kata damai itu lahir ketika muncul pertengkaran dan permusuhan.

Joni Ariadinata dalam Cerpen Lampor telah memindahkan alam realitas ke dalam fiksi. Lampor bisa dimaknai kehidupan yang dipenuhi oleh potensi hantu, atau bisa jadi bahwa kehidupan beberapa golongan tertentu ibarat hantu, menakutkan namun memang sering diwacanakan, seolah ada. Sejatinya, kehidupan dalam Lampor bukan hantu, dia memang mewujud di dunia nyata, ada di sekitar kita. Malahan bisa jadi, justru kita sedang berada di dalamnya.

Bayangkan salah satu paragraf dalam Cerpen Pilihan Kompas ini : " Plastik-plastik terapung, lumpur pekat kecoklatan, perkakas penyok, bangkai anjing dengan perut gemb…

Distorsi Sejarah

Tidak menjadi masalah bagi saya-secara pribadi-, siapa yang lebih layak dibanggakan Dewi Sartika atau Kartini. Namun, saya tidak hanya mewakili sebagai individu, juga memiliki kapasitas sebagai orang yang hidup di lingkungan kultur Sunda. Dimana, ingatan harus dibongkar dan masa lalu harus dirawat. Sejarah harus dikembalikan kepada posisi yang benar. Ini tentang obyektifitas dan pandangan kita terhadap sering kaburnya terhadap hal sebenarnya, tentu saja mengenai apa yang telah terjadi.
Ide sama sekali tidak pernah luntur. Namun sejarah bisa mengalami sebuah distorsi. Fakta bisa diciptakan belakangan, dongeng bisa diceritakan, diolah, lantas diakui sebagai sebuah kebenaran ketika telah ada campur tangan dari para penganut subyektifisme. Ide-ide yang keluar karena dilatarbelakangi oleh kesamaan latar belakang baik sosial, budaya, dan politik. Inilah yang terjadi dalam sejarah negeri ini. Sejarah dibuat bukan sekedar untuk diketahui oleh generasi mendatang, juga diyakini sebagai nilai sak…

Open dan Aki: Refleksi Terhadap Dua Karya Idrus

OPEN DAN AKI: REFLEKSI TERHADAP DUA KARYA IDRUS Oleh: Kang Warsa


Aki Tidak Bisa Melawan Takdir
Tidak ada yang bisa menentang atau melawan takdir Alloh, kecuali seseorang bernama Aki. Tokoh –entah protagonis atau antagonis – dalam Novel karya Idrus ini. Beberapa kritikus sastra telah melahirkan dua pandangan. Aki dipandang sebagai sosok baik dan ada yang memiliki pandangan lain, Aki merupakan perwakilan tokoh kurang baik karena terlalu berani mencemooh takdir Tuhan.
Plot dalam novel ini mengalir apa adanya, seperti perjalanan kehidupan manusia pada umumnya. Pandangan tentang baik buruknya seseorang oleh kita selalu dipengaruhi dengan cara pandang kita yang hanya mengikuti alur kehidupan orang tersebut pada segmen atau beberapa babak dalam kehidupan si pemeran lakon saja. Misalkan, orang-orang pernah mencerca Gus Dur dan Cak Nur ketika babak kehidupan mereka menyentuk ranah –seolah mengagungkan-  pluralisme. Tapi ketika kehidupan dua tokoh ini telah sampai pada satu konklusi, barulah kita s…

Kang Warsa - 2014