Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Struktur Masyarakat Balandongan (1900-2016)

Sejak pembukaan lahan tertutup menjadi areal pemukiman sederhana  di tahun 1600-an, adanya pertambahan penduduk dari tahun ke tahun, pada awalnya kehidupan masyarakat Balandongan generasi pertama bersifat komunal. Lahan-lahan tertutup mulai dibuka menjadi lahan garapan. Pengerjaannya dilakukan secara bersama-sama. Awal abad ke-20, telah terpola bentuk pemukiman memanjang, di mana masyarakat membangun perumahan mereka mengikuti alur jalan utama.
Struktur masyarakat Balandongan hingga tahun 1900-an ditandai oleh dua ciri utama, secara vertikal telah terbentuk dua lapisan masyarakat; kelompok pemangku kepentingan (lapisan atas) atau tokoh masyarakat dan masyarakat umum (Lapisan Bawah). Hanya saja, tidak terdapat kesenjangan terlalu besar antara lapisan atas dengan bawah ini. Sementara secara horisontal tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan, sebab bagaimana pun juga, dalam sebuah masyarakat komunal,  kehidupan yang berjalan dan berkembang bersifat homogen, kehidupan mereka berlang…

Etika dan Budaya Masyarakat Balandongan (1800-2000)

Tidak ada catatan sejarah, sejak kapan penduduk generasi pertama menetap dan tinggal di Balandongan, dari mana generasi pertama itu berasal, apa yang mereka bawa saat pertama kali tinggal di daerah subur yang dipenuhi oleh kerapatan pepohonan. Penelusuran mengenai hal ini hanya bisa dilakukan menurut penyampaian cerita dan informasi dari mulut ke mulut. Masyarakat generasi pertama yang pertama kali tinggal di Balandongan berasal dari daerah utara dan timur Jawa Barat. Mereka mulai menempati daerah ini pada tahun 1500-an. Membuka lahan tertutup menjadi daerah pemukiman, kemudian saat Belanda datang ke Sukabumi mulai dibangun jalan umum yang menghubungkan pemukiman baru ini ke jalan utama, Jl Pelabuan II (sekarang).
Etika dan budaya yang berkembang dalam masyarakat generasi pertama hingga masa pergolakan kemerdekaan di Balandongan ini tidak jauh berbeda dengan etika dan budaya yang ada di tatar Sunda. Sebagai sebuah kerajaan, Pajajaran telah menempatkan orang-orang terpelajar ke daerah …

Modin di Balandongan (1970-1990)

Menyebut kata muadzin itu memang tidak pas bagi lidah orang Sunda, demi alasan kemudahan inilah, masyarakat Sunda -juga masyarakat Balandongan- lebih memilih kata modin sebagai penyebutan bagi orang-orang yang mengumandangkan adzan di mesjid. Namun tetap saja, DKM Mesjid akan menuliskan kata Muadzin dan Khotib pada papan nama-nama modin dan khotib di mesjid.
Tidak jauh berbeda dengan kehidupan di jaman Rasulullah, modin sholat Jum'at biasanya itu-itu juga. Di jaman Rosulullah, Bilal Bin Rabah, orang hitam dari Maroko tersebut yang selalu mengumandangkan adzan saat pelaksanaan sholat Jum'at. Sama halnya dengan kehidupan di Balandongan, modin yang  ditunjuk mengumandangkan adzan sudah pasti itu-itu juga. Abah Mandor Ja'i (alm) dipercaya sebagai seorang modin di Balandongan sejak tahun 1970-1990.
Kecuali sebagai seorang modin, Abah Mandor pun dipercaya sebagai seorang "pemulasara" siapapun yang meninggal dunia. Ada cerita aneh dan diluar nalar manusia normal. Konon, s…

Konflik Furu'iyyah di Balandongan (1984)

Masyarakat Balandongan memegang teguh tradisi dan kebiasaan leluhur  dalam mengimplementasikan ajaran dan keyakinan mereka. Sejak kedatangan Haji Sulaeman pada tahun 1930-an, madzhab Syafii dianut dan dipegang teguh oleh kelompok pesantren yang telah menjadi bagian dari NU dipertahankan dengan apik oleh masyarakat. Mereka biasa melakukan tahlilan jika ada orang meninggal, menyelenggarakan mahinum bagi seorang ibu yang telah melahirkan sang bayi, talkin dibacakan saat mayat akan dikuburkan, mereka pun membaca doa Qunut saat menunaikan ibadah Sholat Subuh, baik secara berjamaah ataupun munfarid (sholat sendiri).
Bahkan, beberapa petani masih biasa melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka saat bercocok tanam, seperti melakukan beberapa ritual terlebih dahulu sebelum tandur, menyimpan sesaji di pematang sawah, dan membakar kemenyan saat panen tiba. Para kyai sama sekali tidak merasa keberatan dengan tradisi-tradisi seperti itu. Tidak ada pelarangan apalagi diha…

Donna Donna

‎Memang tidak banyak orang, terutama di perkampungan mengenal lagu Donna Donna yang dinyanyikan oleh Joan Baez. Di perkampungan, orang lebih memilih memutar lagu-lagu dangdut atau jenis lagu ringan yang enak didengar, tidak perlu mengurai terlebih dahulu bagaimana sejarah lagu ,asal muasal sebuah lagu diciptakan, bagi orang di perkampungan mendengar lagu apapun hanya sebatas pada hiburan. Lagu dari manapun ketika dirasa nyaman dan enak didengar, itulah lagu bagus! Lagu Barat atau Timur tidak syarat dengan ideologi tertentu keyakinan atau agama apapun. Lagu ya lagu.

Saat duduk di bangku SMP lah, lagu Donna Donna mulai saya dengar. Pada mulanya saya memiliki pikiran yang sama dengan kebanyakan orang kampung, lagu didengar dengan cara bagaimanapun yang penting enak. Pada awalnya Saya tidak tahu, apa arti Donna Donna? Di tahun 1993 lah Saya baru mencari-cari makna yang tersirat dalam lagu tersebut. Pada buku ensiklopedia, saya mulai membaca kenapa lagu Donna Donna ini begitu renyah dan ter…

Generasi Ke-Enam: Messiah dari Berbagai Peradaban (Selesai)

Dalam dua opini terdahulu disebutkan bagaimana etika ajaran dari Timur lebih cenderung menitikberatkan pada kebahagiaan bathin. Logos sebagai manusia tidak lebih penting dari nilai dan etika kemanusiaan, itulah alasan kenapa agama dan ajaran dari Timur masih tetap hidup sampai sekarang dengan berbagai varian, sekte, aliran, dan golongannya.

Ajaran tentang kelahiran ‘Sang Messiah’ sebagai juruselamat dalam bingkai ‘paralogis’ menjadi antithesis terhadap ajaran dan keyakinan ‘logos’ yang dimiliki oleh manusia. Rasionalisme lebih menitikberatkan pada hal-hal real, pencapaian kemashuran dan kehormatan manusia pada saat ini. Tidak bersifat totalitas melainkan partikular. Semangat dan etika ini telah disimpulkan oleh Webber dalam ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’, dimana kelahiran Protestan lebih disemangati oleh hal-hal rasional dan bernilai ekonomis. Etika ini menggambarkan, sama sekali tidak ditemui penolakan terhadap urusan duniawi. Negara-negara Eropa penganut Protestan lebih m…

Generasi Keenam: Messiah Dari Berbagai Peradaban (Bagian 2)

Bakkah, sebuah kota baru tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai kabilah, tempat bersemayamnya tuhan-tuhan yang diyakini oleh setiap kabilah. Iklim kosmopolis tradisional terbentuk, tradisi-tradisi berasimilasi, budaya dan folklore berakulturasi. Bani Hasyim telah terlebih dahulu memberikan tanda persis di dekat sumur suci, sebuah tanda berupa kotak persegi dari susunan batu menyerupai kubus (Ka’bah= Cube). Sebagian orang meyakini, bangunan atau kuil itu didirikan sebagai bentuk penghargaan kepada Ibrahim dan sebagian lagi meyakini pembangunan kuil itu atas usulan dari Vikramandtya, kuil sebagai tempat pemujaan bagi dewa air.

Tidak heran, seluruh kabilah menempatkan berhala-berhala di dalam bangunan yang dijaga baik oleh anak-cucu Hasyim dari generasi ke generasi. Kota kosmopolis tradisional yang dipenuhi oleh keberbagaian telah menghasilkan patologi-patologi sosial yang belum pernah ditemui sebelumnya. Kehormatan manusia diukur oleh berlimpahnya harta dan kekuasaan menjadi barom…

Kang Warsa - 2014