Langsung ke konten utama

Heterogen

Semesta ini begitu kompleks, kompleksitasnya -sering - tidak bisa ditafsirkan oleh nalar manusia. Para penganut positivisme pun akan menemui kebuntuan pikiran saat dihadapkan pada persoalan kecil saja, misalkan sikap baik budi, welas asih, atau sombong dan licik, kenapa hal-hal yang tidak terjamah oleh inderawi tersebut ada dalam diri manusia? Darwin pun demikian, mengalami kebuntuan saat harus mengelaborasi teori evolusi yang dicetuskannya mengenai asal mula keberadaan semesta ini, sejak kapan?

Adalah wajar, dalam setiap peradaban dan kehidupan manusia kita akan selalu menemui persoalan yang sulit diterjemahkan oleh akal, ada dua kemungkinan; pertama, kapasitas dan kemampuan akal begitu terbatas ketika harus menerjemahkan pararelisme ruang semesta. Kedua, nalar dan budi sama sekali diposisikan saling berlawanan. Se-rasional apapun agama dan ritual-ritual yang dianut dan dilakukan oleh manusia disana terdapat dan tersimpan dogma dan hal sakral yang tidak bisa diurai oleh logika, itulah pentingnya setiap manusia dalam beragama harus saling menghormati terhadap peribadatan yang dilakukan. Umat Islam jangan sesekali menyudutkan peribadatan orang lain, umat lain pun sebaliknya, misalkan: dalam tata cara dan praktik peribadatan agama Hindu dan Budha kita akan mengernyitkan kening, kenapa mereka beribadah menyembah Tuhan namun harus menghadap dan bersimpuh pada patung-patung? Sementara kita sendiri - misalkan umat Islam - jika ditanya oleh penganut Hindu dan Budha, kenapa umat Islam saat sembahyang - apalagi jika berada di Masjidil Harom - harus sujud kepada batu persegi ( Ka'bah)?, jawaban dari kita dan mereka akan sama: Kami tidak menyembah kepada patung atau batu persegi tersebut! Jika mau disebut rusak peribadatan seperti itu, maka kedua-duanya bisa dikatakan rusak.

Karena Tuhan tidak memerlukan dan membutuhkan penghambaan dari mahlukNya. Tuhan tidak haus pujian, mahluk berbuat baik atau jahat pun tidak akan mengurangi kemahakuasaanNya, Dia akan tetap baik dan berwelas-asih. Jika pun harus dibersihkan atau dimurnikan peribadatan kita terhadapNya adalah dengan membuang atribut-atribut duniawi, duduk bersimpuh, berserah diri, mengaku diri sebagai mahluk hina dan diliputi kesalahan, itu bisa menjadi lebih murni dari bentuk penghambaan kepada Tuhan daripada peribadatan namun harus melibatkan unsur-unsur paganisme.

Hukum Tuhan dan aturanNya telah tersematkan dalam kehidupan ini, tertancap di cakralawa semesta. Sebagai contoh salah satu hukumNya adalah kekompleksitasan atau keheterogenan dan keberagaman. Jika hidup ingin diseragamkan maka kita telah menentang salah satu hukum Tuhan, akibatnya? Lahir sikap egosentris, kemauan kelompok, merasa menjadi kelompok yang paling dekat dengan Tuhan, merasa diri sebagai penjaga agama dan pembela Tuhan, arogansi dan kerakusan terhadap agama. Harmoni kehidupan musnah dalam genggaman para penganut ekslusifitas. Harus diingat, dunia bukan milik kita, tapi milik Sang Maha Kreator Agung, Alloh.

Hukum dan aturan Tuhan harus dibumikan, bukan dibumihanguskan oleh aturan Pseudo Ilahi, seolah wahyu atau pemanfaatan wahyu sebagai alat untuk mencapai tujuan. Membumikan hukum dan aturan Tuhan adalah tugas manusia, minimal kita menyadari adanya keberagaman dalam kehidupan. Akal pikiran akan mampu menjawab hal ini, apakah ketika kita menginginkan segala sesuatu harus seragam kehidupan akan berjalan normal? Jika dunia ini hanya diisi oleh keseragaman maka kehidupan sama sekali akan berakhir. Jangan heran jika di sekeliling kita ada orang baik dan jahat, ada ustadz dan pendosa, ada Islam dan Kristen, hal tersebut adalah keniscayaan. Jika kita menghendaki kehidupan hanya diisi oleh orang-orang yang seiman dengan kita, pernahkah kita bertanya kepada Tuhan, kenapa Engkau tidak menciptakan manusia dalam keadaan Islam seluruhnya? Faktanya, hal itu tidak terjadi, dan kita hanya akan menjawab itu merupakan kehendakNya! Bahkan, terhadap kejelekan dan kecelakaan yang dialami pun kita sering menjawab, ini adalah kehendak Tuhan!

Jadi, sampai saat sekarang kita sering membahas dan membicarakan masalah Tuhan, agama, dan keyakinan yang dianut, dengan pemikiran yang sangat dangkal!

Termasuk Saya sendiri....

Kang Warsa

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Review Buku: Islam Pascakolonial

Kang Warsa - 2014