Langsung ke konten utama

Pemangkasan Dwelling Time di Pelabuhan



Persoalan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi MEA di beberapa pelabuhan bongkar muat barang dan logisitik yaitu lama waktu rata-rata bongkar muat barang di pelabuhan (dwelling time). Saaat ini, lama waktu bongkar muat barang di pelabuhan sekitar 20 hari. Pemerintah Indonesia melalui menteri Koordinator bidang kemaritiman menyadari ini, regulasi baru akan dikeluarkan , pemerintah akan memangkas waktu rata-rata bongkar muat barang di pelabuhan hingga 4.5 hingga 4.7 hari saja.

Lama waktu bongkar muat barang di pelabuhan memengaruhi besar terhadap melambungnya biaya logisitik yang dihadapi oleh setiap perusahaan. Biaya logistic sendiri dipengaruhi besar oleh beberapa factor, antara lain; lama waktu sebelum masuk bea cukai, tahapan di bea cukai, dan pasca selesai pengurusan barang di bea cukai. Semakin lama waktu bongkar muat, hal ini akan berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh setiap perusahaan. Pemangkasan waktu bongkar muat barang (dwelling time) sudah dipastikan akan lebih meminimalkan biaya logisitik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014