Langsung ke konten utama

Yellow Journalism



‎Anda mengenal yellow paper? Di era sebelum dikenal internet, yellow paper dijual di kios koran pinggir jalan, biasanya berupa buku atau koran stensil berisi berbagai hal; mulai dari propaganda. Pseudoscience, sampai pornografi.

Sejalan dengan istilah yellow paper, istilah Yellow Jounalism mulai  dikenal di Amerika serikat, bersumber pada persaingan dua wartawan pada pertengahan tahun 1890 – an, yaitu Joseph Pulitzer dari harian New York World dan William Randolph Heartz dari harian New York Journal yang sering menulis menggunakan tinta berwarna kuning. Pada puncak persaingan keduanya, kedua harian tersebut telah dikritik oleh publik setempat karena berita yang dimuatnya sering dibuat bombastis dan sensasional walaupun sebenarnya biasa saja. Hal itu dilakukan kedua belah pihak untuk meningkatkan oplah mereka.

Seiring waktu, term di atas lebih banyak digunakan untuk menyebut setiap media massa yang memuat berita secara tidak benar, tidak profesional, dan tidak beretika. Frank Luther Mott menyebutkan lima karakteristik Yellow Journalism, antara lain:

  1. Memuat Tagline judul yang besar, bombastis, tapi minim berita;
  2. Menggunakan gambar – gambar ilustrasi, dan memuat suplemen pada hari minggu berupa komik dan yang sejenisnya;
  3. Memuat wawancara palsu, data palsu, atau pun analisa – analisa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan;
  4. Biasanya memuat cover dengan desain yang provokatif, penuh warna, dan menarik pembaca; dan
  5. Memuat propaganda yang menjatuhkan atau mendukung suatu pihak. 

Di samping menggunakan teknik-teknik di atas, Yellow Journalism juga memfokuskan pemberitaannya pada isu-isu kontroversial yang mampu memancing perdebatan dan gosip. Isu-isu kontroversial ini sengaja diangkat untuk menarik perhatian pembaca atau audiens sebanyak mungkin, rata-rata dari kalangan kelas menengah ke bawah di perkotaan (Hamad, 2007: 202). Sehingga banyak juga pihak yang mengatakan Yellow Journalim sebagai koran sampah, atau paling tidak berita sampah. Namun sebagai alat propaganda, Yellow Journalism dapat mendorong dan menjadi alat efektif dalam mendorong perubahan. Dampak jeleknya, Yellow Journalism dapat memicu kekerasan dan radikalisasi

Pada awalnya Yellow Journalism lebih merupakan fenomena yang muncul pada media cetak, kemudian istilah ini bergeser ke arah etika jurnalistik, menjadikan istilah ini dapat disematkan untuk seluruh media massa yang memiliki corak dan karakteristik seperti di atas. Sehingga Pengamalan Yellow Journalism tidak selamanya dimonopoli oleh media tidak serius. Dalam derajat tertentu, media yang dikategorikan serius pun sering mengamalkan Yellow Journalism, terutama media-media yang memiliki agenda tertentu dan berafiliasi terhadap garis pemikiran tertentu, sebagai contoh media – media yang dikeluarkan oleh Partai Politik, Organisasi Massa, atau pun lembaga berkepentingan lainnya. Bahkan media media mainstream sekalipun dapat terjebak pada Yellow Journalism, ketika sudah memutuskan untuk berafiliasi dengan kepentingan tertentu dan mengabaikan prinsip dan etika jurnalisme, sebagai contoh, publik tentu masih ingat bagaimana perang opini diantara dua media massa elektronik pada saat pemilu presiden terakhir.

Disadari atau tidak, term Yellow Journalism mencapai popularitasnya pada era sekarang, terutama di portal dunia maya. Walaupun beberapa portal dunia maya, secara konvensional tidak dapat disebut sebagai media massa, namun untuk sekedar memenuhi kategori jurnalistik hal itu dapat terpenuhi. Menurut Siregar (2000: 173) paling tidak ada 3 syarat terpenuhinya kategori Jurnalistik, diantaranya :

  1. Jurnalistik merupakan proses/kegiatan pengkomunikasian informasi/berita, mulai dari mencari, memilih, mengumpulkan, menulis, dan mengedit informasi.
  2. Hasil olahan informasi berwujud produk mikro pemberitaan (straight news, soft news, feature, foto, gambar, visual, rekaman suara, dsb).
  3. Informasi yang telah diolah itu disiarkan secepat-cepatnya melalui media massa seperti surat kabar, majalah, tabloid, bulletin, newsletter, internet, televisi, radio, dsb

Selain itu tidak adanya sensor yang ketat di dunia maya untuk mengatur alur informasi, membuat semua pihak dapat menginformasikan apapun yang mereka inginkan, walaupun bersumber pada kebohongan. 

Meskipun seringkali mendapat cap negatif, masih banyak masyarakat yang mempercayai dan menjadikan Yellow Journalism sebagai sumber informasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan berapa banyak orang yang membagikan setiap info yang dia peroleh di dunia maya melalui akun jejaring sosial tanpa melakukan klarifikasi, apakah informasi tersebut benar ataukah tidak. Mereka juga sering menjadikan media massa (tabloid, majalah) yang memiliki afiliasi pemikiran yang sama dengan mereka sebagai referensi utama (primary source) tanpa menimbang apakah itu layak ataukah tidak. Hal itu terjadi lebih disebabkan oleh karakter manusia yang cenderung sulit untuk bersikap objektif dan netral. 

Journalisme secara konvensional, berarti menginformasikan secara utuh suatu fakta secara apa adanya. Kata kunci dari Jurnalisme adalah kebenaran (truth). Journalisme pun harus memihak kepada publik dan imparsial (tidak memihak). Dalam kaidah Jurnalisme, seorang jurnalis harus menyampaikan fakta sesuai dengan apa yang disaksikan, tanpa harus menghakimi terhadap fakta tersebut berdasarkan opininya. Ketika seorang jurnalis melihat tangan seorang laki – laki dewasa merogoh tas seorang perempuan di atas bus kota, maka seorang jurnalis haruslah menulis apa adanya, karena belum tentu laki – laki tersebut adalah copet.

Tentang Penulis:

Agung Dugaswara

Penulis merupakan salah seorang Komisioner KPU Kota Sukabumi membidangi divisi Teknis Periode 2013-2018. Pria lulusan Universitas Bung Karno ini aktif menulis sejak kuliah.

Sebelum menjabat sebagai Anggota KPU, Agung aktif di Panitia Pengawas Pemilu Kab. Sukabumi sebagai staf ahli, aktif juga di berbagai organisasi dan forum diskusi.

Kang Warsa

Bersama Agung Dugaswara, penulis ini sering mendiskusikan berbagai hal berkaitan dengan persoalan/problematika kehidupan; politik, sosial, dan budaya. Aktif menulis sejak SMA.

Beberapa tulisan tersebar di media cetak dan elektronik sejak tahun 1998, baik opini, kolom, cerpen, puisi, dan reportase.

Media yang pernah memuat tulisan-tulisannya antara lain: Republika, Tabloid GO, Bola, Annida, Horison, Kompas, Kompasiana, Radar Sukabumi, dan media online,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014