Langsung ke konten utama

Menumbuhkan Kearifan Lokal dalam Sistem dan Pola Pendidikan



Sudah jelas, hal pertama yang harus diperkenalkan kepada peserta didik saat memasuki lembaga pendidikan usia dini sampai sekolah tingkat dasar adalah moral value seperti; etika, estetika, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kejujuran. Keyakinan kepada Tuhan pun harus diperkenalkan sejak dini. Mengenalkan konsep ketuhanan atau ketauhidan harus menghindari hal krusial yaitu; menganggap agama yang dianutnya paling benar. Kenapa hal ini harus dihindari? Sebab sikap merasa paling benar ini akan merusak tatanan dan struktur moral value manusia, akan merusak juga pemahaman konsep ketuhanan.

Membenamkan sikap merasa agama yang dianut paling benar akan melahirkan kesombongan dan merendahkan agama-agama lain. Pada akhirnya akan melahirkan statement; Tuhan Kami berbeda dengan Tuhan Mereka. Konsep ketuhanan seperti ini jelas telah mengalami kerusakan, sebab ketika seseorang memiliki pikiran ada Tuhan lain selain Tuhan yang diyakininya, secara langsung telah meyakini ada Tuhan lain. Ini jelas sekali bertentangan dengan ketauhidan dan nilai sila pertama Pancasila di negara ini.

Di masyarakat kita masih banyak berkembang pemikiran yang belum benar, kecerdasan selalu dibanding-luruskan dengan I.Q. Pandangan seperti ini pada akhirnya telah memaksa dan memenjarakan pikiran para orangtua, seolah ketika anak-anak sejak dini telah mampu menyelesaikan soal-soal matematika, bisa membaca, dan menulis dikatakan itulah anak cerdas. Padahal, dengan tanpa menumbuhkan afeksi dan nilai moral maka kecerdasan sebatas I.Q ini belum dikatakan sempurna.

Pandangan keliru ini, secara langsung telah memaksa lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini menerapkan pola pembelajaran yang cenderung mengajak anak agar bisa membaca, menulis, dan berhitung mendapat porsi lebih besar dari penerapan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Kecerdasan manusia seharusnya ditempatkan secara proporsional karena kecerdasan sendiri berbeda-beda namun dipaksa agar sama dimiliki oleh anak. Lahirnya sebuah keletihan, sebab pendidikan telah disejajarkan dengan sebuah kompetisi bukan sebagai pembinaan.

Menumbuhkan semangat ‘agamaku yang paling benar’ sejak dini telah melahirkan sikap chauvinis. Pada awalnya memiliki niat baik agar anak benar-benar konsisten dan teguh pendirian terhadap agama yang dianutnya. Namun pendirian ini telah melahirkan pikiran in group dan out group. Apalagi ketika anak diberikan pemahaman membanding-bandingkan agama sejak dini, mengenalkan konsep Jihad yang keliru, diperdengarkan pada cerita-cerita peperangan, hal ini akan menumbuhkan kebencian kepada beberapa pihak dalam bingkai generalisasi. Sikap stereotif lahir dan memiliki sangkaan, setiap penganut agama lain adalah kafir. Karena kafir, mereka tidak akan berbeda jauh dengan orang-orang kafir di jaman jahiliyyah yang telah diperangi oleh Rosul. Karena berperang secara fisik tidak mungkin dilakukan, diambillah cara sederhana, membuat sekat pemisah antara Kami dan Mereka.

Hal ini bukan hanya terjadi di dalam masyarakat Muslim. Di masyarakat penganut agama lain pun masih tumbuh pola pendidikan seperti ini. Jelas sekali, cikal bakal kebencian dan saling curiga telah dibenamkan ke dalam diri tunas-tunas manusia, saat tumbuh dewasa, mereka akan terpecah menjadi dua kelompok; membenci agama orang lain atau membenci agamanya sendiri karena terlalu banyak hal yang harus dilakukan dan bertentangan dengan nilai moral yang ada dalam dirinya.

Di beberapa negara dengan sistem dan pola pendidikan yang telah baik, pendidikan bagi anak-anak sejak usia dini sampai lulus sekolah dasar lebih difokuskan pada penerapan sikap, bagaimana membiasakan budaya antri, menghargai keberadaan orang lain, dan berbicara jujur. Pola seperti ini sebetulna telah terpatri dalam budaya leluhur kita, dalam masyarakat Sunda telah tersebar ungkapan, pinter, singer, tur bageur. Alus tekad, ucap, jeung lampah.

Kearifan-kearifan lokal inilah yang harus digali dan dikembangkan kembali dalam sistem dan pola pendidikan di negara ini. Pendidikan tidak sekadar mengejar angka, bahkan ini harus ditinggalkan, sekolah harus benar-benar mengejar sikap dan kata. Siswa tidak lagi harus didorong untuk berlomba-lomba mengejar nilai tertinggi, namun harus diarahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Ini memang sulit bagi negara yang telah sekian lama jauh terperosok ke dalam jebakan, prestasi adalah ketika seorang siswa mendapatkan nilai tinggi dalam bidang akademik.

KANG WARSA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014