Langsung ke konten utama

Alam Dihormati, Manusia Sejahtera



Pada penyampaian mata pelajaran IPS kelas VII kemarin, Saya memaparkan iklim dan cuaca kepada para siswa MTs Riyadlul Jannah. Saya mengajukan sebuah pertanyaan, kenapa tubuh manusia - kadang - tidak bisa bersahabat dengan perubahan iklim dan cuaca akhir-akhir ini. Tubuh manusia, tiba-tiba sering tidak tahan terhadap musim pancaroba, mudah sakit-sakitan, apalagi jika usia telah memasuki masa senja?

Pertanyaan tersebut sebenarnya bersifat retoris saja, sebagai prolog dalam pelajaran IPS kemarin. Kemudian, Saya mengajak kepada seluruh siswa untuk berimajinasi, membayangkan kehidupan yang jauh dari ingar-bingar deru mesin, hirup pikuk persaingan, dan saling berdesaknya berbagai polusi yang telah memadati setiap ruang gerak manusia di jaman ini. Saya mengajak para siswa mengeksplorasi masa jutaan tahun lalu. Ketika alam masih benar-benar bersih dari setiap potensi keburukan.

Satu kalimat saya tulis di papan tulis: " Saat manusia benar-benar menghormati alam, memuliakan tanah, gunung, hutan, sawah, danau, rawa, dan lautan, konsekwensinya adalah alam akan berbanding lurus memuliakan dan menghormati manusia."

Pikiran manusia saat ini sering menjurus pada polarisasi dan pengkutuban: seolah manusia yang disubkyektifkan sebagai khalifah di muka bumi mengampil peran sebagai tuan atas alam. Sawah dan kebun diposisikan sebagai budak, diperlakukan sebagai alam yang terjajah. Maka tidak heran, di jaman ini, hampir setiap bagian dari kita tidak pernah meminta ijin dulu kepada sawah saat akan bercocok tanam. Sawah digarap, diinjak, dan diperkosa, ditanami, dipanen, lalu diabaikan hak-haknya. Hasilnya? Sawah pun enggan memberikan hal lebih kepada manusia. Hasil panen saja - misalkan padi - selalu tidak bisa mencukupi, hari ini dipanen, besok sudah "ludes". Apa ini? Sawah sudah enggan memberikan hal lebih kepada manusia.

Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan masa lalu, hidup manusia sungguh berkecukupan, sawah, ladang, dan kebun tidak pernah diserang hama, mereka memberikan hasil melimpah ruah. Hidup manusia sangat berkecukupan bahkan lebih dari cukup. Alam menyediakan segala hal yang dibutuhkan oleh manusia. Selama jutaan tahun, bencana alam tidak pernah terjadi. Saya mengatakan kepada para siswa, pandangan ini sangat utopis, namun percayalah, kondisi ini pernah dialami oleh para leluhur kita!

Dalam berbagai kitab suci disebutkan, kata "Jannatu 'Adnin" sering dihubungkan dengan kehidupan manusia awal. Apa artinya? "Jannatu 'Adnin" merupakan sebuah tempat historis, tempat yang bisa memberikan segala kebutuhan hidup bagi manusia. Bukan tempat khayali yang berada jauh di negeri Kahyangan. "Jannatu 'Adnin" adalah bumi tempat kita berpijak, bumi tempat berkumpulnya manusia-manusia baik yang saling menghormati sesama, memuliakan alam, dan memuja Tuhan secara jujur serta ikhlash.

Maka lihatlah, mereka -manusia-manusia - yang hidup di "Jannatu 'Adnin' sama sekali tidak mudah terkena berbagai macam penyakit. Hidup mereka bersahabat dengan iklim dan cuaca, kenapa? Partikel-partikel alam di sekitar mereka bersikap baik dan bersahabat karena sikap manusia sendiri telah benar-benar bersahabat dengan alam.

Manusia - di jaman ini - sering memiliki anggapan, seolah alam tidak bisa berbicara dan diajak berkomunikasi. Manusia memiliki pikiran sempit, alam dianggap bisu, buta, dan tuli, dan pada akhirnya, manusia memaksa alam agar melayani sebagai keperluan manusia. Padahal, satu butir batu saja bisa berbicara dengan bahasanya.

Saya mengatakan kepada para siswa: jika saja manusia telah kembali kepada kondisi seperti dulu, menghormati alam dan memosisikan alam sebagai sahabat atau kerabat, di dunia ini tidak akan terjadi kelaparan. Jika manusia telah berubah menjadi para pecinta kebijaksanaan dan para pelaku kebaikan, tidak akan terjadi berbagai bencana, penyakit, perang, korupsi, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Manusia akan hidup dalam kedamaian dan berkecukupan. Bahkan satu tangkai padi pun bisa menghasilkan berkilo-kilo bulir gabah, jika seluruh manusia penghuni bumi ini telah menjadi manusia baik. Alam tidak akan bersikap pelit kepada kita.

Kang Warsa

Sent from my BlackBerry®

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Izin Operasional Padepokan

PEMERINTAH KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jl. Pelabuan II Km.5 Telp (0266) 221766 Sukabumi

PERSYARATAN IZIN OPERASIONAL SANGGAR/LINGKUNG SENI/ PADEPOKAN SENI
A.PERSYARATAN
1.Membuat Surat Permohonan Izin Operasional SK/Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan 2.Melengkapi Administrasi a.Photo Copy KTP pemilik/pimpinan organisasi. b.Pas Photo 3x4 (2 lembar). c.Membuat Surat Permohonan Izin Sanggar/Lingkung Seni/Padepokan. 3.Kelengkapan Database a.Sanggar : -Harus ada murisd yang terdata. -Profil/ Daftar Struktur Organisasi sanggar. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan Buku Induk Peserta kursus sanggar. b.Lingkung Seni : -Profil/ Daftar Struktur Organisasi Lingkung Seni. -Sudah berjalan satu tahun dengan melampirkan  bukti kegiatan Lingkung Seni. c.Padepokan :

Review Buku: Islam Pascakolonial

Resume Buku: Kyai dan Perubahan Sosial

Buku karya Hiroko Horikoshi berjudul Kyai dan Perubahan Sosial membahas tentang kyai dan ulama di Perdesaan Jawa Barat, Indonesia. Kyai dan ulama adalah gelar ahli agama Islam. Lokus penelitian dilakukan oleh Horikoshi di Kampung Cipari, Garut. Hal penting yang diinginkan dalam penelitiannya tersebut adalah menjawab sebuah persoalan penting yang sering diperdebatkan selama beberapa tahun tentang peran kyai dalam perubahan sosial. Geertz pernah menyoal antara kyai, santri, dan abangan, namun dalam karya Geertz tersebut masih ada kontradiksi pernyataan, tidak tegas, sering muncul pertentangan satu sama lain. Satu sisi Geertz menyebutkan kyai sebagai pemantik ‘kebebasan berusaha’, namun pada sisi lain ia menyebutkan kyai sebagai pemantik bagi masyarakat dalam pengejaran kehidupan di akhirat nanti, hanya bergumul pada persoalan pahala dan dosa saja.[1]




[1] Zamakhsarie Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. Hal 5.

Kang Warsa - 2014