Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Yellow Paper Reformasi

Di awal reformasi, berbagai media cetak seperti koran dan tabloid lahir. Karakteristik yang muncul adalah menampilkan pemberitaan se-bombastis mungkin.

Judul-judul di berbagai media cetak baru ditulis dalam format ukuran huruf sangat besar serta mencolok. Bahkan, dengan jumlah karakter melebihi judul pemberitaan normal.

Bukan hanya supaya mudah dibaca, namun agar pembaca merasa tertarik lalu membelinya. Harganya pun sangat terjangkau, kisaran Rp. 1.000,- sampai Rp. 2.000,-.

Isi berita begitu beragam, dari mulai politik hingga menampilkan pemberitaan artis-artis yang tidak pernah tersentuh media elektronik (televisi), fose-fose setengah telanjang. Berita didominasi oleh aksi-aksi kejahatan di berbagai daerah.

Media-media cetak stensilan tersebut laku keras di awal reformasi. Di kedai para pedagang koran di pinggir jalan, setiap pagi terlihat orang-orang berkerumun membaca halam depan koran yang dipajang pada rak-rak sederhana.

Meskipun keorisinilan isi pemberitaan di media-media cetak te…

Begal Motor

Beberapa bulan lalu, masyarakat diresahkan oleh sepak terjang "berandal motor". Dan sejak mencuat kejadian pembakaran "begal motor", kini masyarakat merasa resal oleh keberadaan "begal motor".

Informasi disampaikan oleh masyarakat, baik di jejaring sosial atau BBM Broadcast agar pengguna motor berhati-hati saat melewati beberapa jalan tertentu. Informasi ini tidak sekadar hoax, namun dilatar belakangi oleh peristiwa betapa "biadab" para "begal motor" dalam menjalankan aksinya.

Di Sukabumi saja, dua hari lalu terjadi peristiwa, dua orang wanita mengalami kecelakaan di Jl. Pelabuan II (Cikujang), saat mengendarai sepeda motor dijambret bajunya oleh seorang "begal motor".

Kata begal sepadan dengan perampokan. Sikap pemaksaan terhadap seseorang agar menyerahkan barang miliknya dengan cara diancam. Bagi masyarakat Sunda, pada beberapa dekade lalu, mungkin hanya didengar di dalam cerita dan dongeng Sunda di radio. Meskipun dalam tata…

Harga Beras dan Regulasi Pemerintah

‎Melonjaknya harga beras di pasaran dipengaruhi oleh semakin berkurang ketersediaan beras.
Harga beras dengan kualitas baik mencapai kisaran Rp. 12.000,- per kilogram.
Sebagian besar masyarakat merasakan dampak kenaikan harga beras ini. Tanpa kecuali, para pedagang warung nasi pun merasakan akibat langsung dari kenaikan harga beras ini.
Dua hari lalu, Presiden Joko Widodo merencanakan inspeksi dan survey harga beras dengan terjun langsung ke pasar.
Meskipun demikian, langkah pemerintah ini masih belum bisa mengatasi kenaikan harga beras kepada harga stabil.
Beberapa pihak menuding, kenaikan harga ini dipicu oleh permainan yang dilakukan oleh mafia beras dan para penimbun.
Pengamat ekonomi menyebutkan, langkah strategis pemerintah untuk mengatasi sikap para spekulan ini harus dilakukan secepatnya. 
Pemerintah sebaiknya mengeluarkan regulasi terkait kestabilan harga-harga beras, tidak hanya mengikuti hukum pasar yang bisa dipermainkan oleh mafia pasar.
Salah satu penyebab kelangkaan beras di pa…

Is

‎Temanku berkata, dahulu sekali, kehidupan di dunia ini penuh dengan keharmonisan. Pusat kekuasaan di dunia dikendalikan oleh seorang pimpinan, dia seorang raja adil, menyayangi rakyatnya dengan sepenuh hati. Kondisi dunia, gemah ripah repeh rapih, sugih mukti, tata tintrim, mulus rahayu. Setiap orang bekerja pada bidangnya masing-masing, petani menjadi petani, pedagang menjadi pedagang, para pegawai menjadi pegawai. Seorang tetangga tidak pernah merasa iri dengan apa yang dilakukan dan dimiliki oleh tetangganya. Kedengkian tidak pernah ada. Rumah-rumah yang dibangun memiliki arsitektur sama, semua ditata harus menghadap jalan. Karena rakyat patuh dan benar-benar mematuhi titah rajanya. Raja tersebut bernama Is.
Is dinobatkan menjadi seorang raja tidak melalui pemilihan, namun diangkat langsung oleh umat manusia karena dalam dirinya terpancar cahaya Tuhan. Mengasihi siapa pun. Manusia pada masa itu berikrar, akan mematuhi kebijakan apa pun yang dikeluarkan oleh rajanya, karena perintah…

Legenda Hidup Guru

Saya telah mengajar di sekolah sejak tahun 1999, setahun setelah lulus SLTA. Ketika masih duduk di bangku SMA pun sering dipinta membantu Bapak Muallim mengajari anak-anak mengaji di mesjid jami, itu permulaan Saya hingga terjun ke dunia ajar –mengajar.
Mengajar mengaji dan les tentu berbeda dengan metode mengajar di kelas. Tahun 1999, Saya langsung diminta masuk ke dalam kelas oleh salah seorang sesepuh di kampung, mengajar di Madrasah Diniyyah atau sekolah agama. Bukan hanya sebagai guru , karena di setiap sekolah agama sangat minim sekali oleh tenaga pengajar, otomatis Saya langsung menjadi wali kelas.
Masalah honor atau insentif mengajar di sekolah agama  telah menjadi rahasia umum, dalam sebulan setiap pendidik hanya mendapat honor Rp. 50.000,- perbulan, Kepala sekolah mendapatkan uang lebih Rp. 25.000,- dari para guru. Tentang ketepatan waktu penerimaan honor atau insentif pun selalu berubah-ubah, bisa tanggal 5 , malahan bisa lebih dari tanggal 10. Uang honor sendiri dihasilkan d…

Potret: Panen Tiba

" Panen tiba. Petani desa. Memetik harapan." - Iwan Fals -

Jembatan Jl. Merdeka Cikundul Sedang Diperbaiki

Jembatan di Jalan Merdeka, Cikundul yang rusak beberapa minggu lalu sedang diperbaiki oleh Pemerintah Kota Sukabumi.
Kerusakan jembatan memang tidak terlalu berat, namun karena jembatan berada di tikungan jalan bisa membahayakan pengguna jalan.
Jembatan pada bahu jalan sebelah kanan dari arah Barat amblas, tembok beton retak, jika dibiarkan kerusakannya akan semakin bertambah.
Beberapa warga sempat mengeluhkan hal ini. Pemerintah Kota Sukabumi seolah membiarkan jembatan rusak semakin berat tanpa ada upaya perbaikan.
Sebagai tanggapan terhadap keluhan warga, sejak tanggal 20 Pebruari, Pemkot Sukabumi telah menjalankan renovasi jembatan rusak yang terletak di dekat MTs Riyadlul Jannah, Cikundul tersebut.
Selain memperbaiki jembatan, dilakukan juga perbaikan saluran air sepanjang 20 meter.
Diperkirakan, renovasi jembatan dan perbaikan saluran air pinggir jalan akan selesai dalam waktu dua minggu.‎ []

Buku Pelajaran

Masih ingat dengan ejaan: Ini Budi, Ini Wati, dan Ini Iwan? Benar, pelajaran membaca Bahasa Indonesia yang kita terima di kelas ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Buku pelajaran Bahasa Indonesia diberi sampul dengan tulisan "Belajar Membaca dan Menulis", seluruh isi buku dicetak tebal diberi gambar ilustrasi sederhana hitam putih.

Tentu saja, pemerintah Orde Baru mencetak buku-buku pelajaran seperti itu bukan tanpa alasan. Diberi sampul album dengan judul "Belajar Membaca dan Menulis" tidak sekadar persuasi, sebab bagi siapa pun yang masuk dan duduk di bangku Sekolah Dasar sudah dipastikan harus bisa membaca. Penulisan ajakan tersebut merupakan metodologi Pemerintah Orde Baru dalam mendidik anak-anak dengan buku sederhana namun harus menghasilkan keluaran (out-put) maksimal, bisa membaca.

Kasus "tidak bisa membaca" sebagai eufimisme dari buta huruf merupakan persoalan penting yang dihadapi oleh negara waktu itu. Pada awal Indonesia merdeka, hanya 7% saj…

Distribusi Raskin

Distribusi Raskin (Beras Miskin) di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo berbeda dengan kepemimpinan sebelumnya.
Jika di era SBY, para ketua RT bisa mendistribusikan Raskin secara langsung kepada masyarakat, saat ini masyarakat yang harus mengambilnya langsung ke kantor desa atau kelurahan. Kecuali itu, warga kurang mampu juga harus membayar kontan beras tersebut.

Perubahan teknis ini tentu saja menimbulkan pertanyaan dari warga kurang mampu.

Salah seorang warga di Kecamatan Baros, Kota Sukabumi mengatakan, perubahan seperti ini semakin menyengsarakan warga tidak mampu.

" Dulu pembayaran beras bisa dicicil, sekarang harus kontan. Tidak ada uang, artinya kita tidak akan menerima beras."

Warga lain bernama Tikah mengatakan, 11 Kg beras dibayar oleh Rp. 20.000,-. Harga Raskin memang tetap seperti dulu, namun daya beli warga saat ini belum meningkat juga akibat imbas kenaikan harga BBM beberapa bulan lalu.

Sementara itu, pihak Kecamatan dan Kelurahan mengatakan, teknis distribusi se…

Bunker Meneer Hullen

Pasca Andres de Wilde membuka orderneming teh di Sukabumi pada tahun 1815, beberapa onderneming dan afdeling perkebunan dibuka secara besar-besaran di Selatan Sukabumi. Dari Sukabumi sebelah Timur hingga ke Jampang Kulon dibuat jalan-jalan baru, perkebunan teh dan karet dikembangkan dengan mempekerjakan warga pribumi sebagai kuli-kuli kontrak. Di setiap onderneming dan afdeling, Belanda membangun instalasi-instalasi listrik sederhana. Pengadaan alat-alat berat seperti mesin pemanas, penggilingan teh, mesin pemotong kayu, dan mesin pembuat kayu baru dilakukan oleh Belanda di awal abad ke-20.
Sekitar tahun 1830, salah seorang pengusaha Belanda bernama Hullen, membangun perkebunan di daerah Lengkong. Sebelah Barat Kampung Cibandung dibuka perkebunan teh dan di Kampung Cibandung sendiri Meneer Hullen – panggilan akrabnnya menurut penurutan salah seorang warga bernama Bah Momoy – membuka lahan seluas 30 hektar untuk perkebunan karet.
Hullen hidup bersama keluarganya di sebuah bukit di tengah…

Usaha Mencari Cacing Air

Cacing air merupakan pakan ikan Patin dan Lele Dumbo. Menurut salah seorang pencari cacing air, Cecep, satu liter cacing bisa dibeli oleh BBAT Sukabumi seharga Rp. 15.000,-.

" Tidak sulit untuk mencari cacing air, asal kita berani terjun langsung ke selokan, membuang rasa jijik." Ungkap Cecep.

Selama dua jam, Cecep bisa menghasilkan sebanyak lima sampai sepuluh liter cacing air.

Dia mengatakan, usaha ini lebih ringan namun bisa menghasilkan uang lebih daripada pekerjaan yang biasa diakukannya sebagai kuli bangunan.

Perbandingan hasil usaha mencari ikan dengan kuli bangunan bisa sampai 2:1. Tenaga yang dikeluarkan pun sudah tentu tidak sebesar ketika bekerja sebagai kuli bangunan.

Kendalan yang dihadapi oleh pencari cacing air adalah jika hujan turun deras, air selokan melimpah, biasanya cacing-cacing yang menempel di lumpur akan terbawa arus air. [ ]
Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan 3 Indonesia.

Jaman Internét Jeung Anti Sosial

Ngaréngsékeun pancén ti dosen, arék nyieun makalah atawa paper, dina tungtung taun 1990-an masih diketik ku mesin ketik manual, anu sorana bebeletokan. Capéna lain nalika ngetik wungkul, ogé kudu néangan référénsi ka perpustakaan, ngumpulkeun welasan buku, terus diserat dina buku tulis ngeunaan téori-téori anu aya dina buku anu dijadikeun référénsi. Can wanoh jeung internét, komo ka mbah google mah. Da mimiti internét aya ogé, dina taun 1998 masih kawilang - ngan dipaké ku perusahaan-perusahaan badag. Éta ogé saukur digunakeun keur ngecék e-mail anu asup. Rongkah pisah ikhtiar jeung usaha mahasiswa jaman harita dina nedunan pancén ti dosen téh, ceuk paribasa mah, bélaan kaluar késang badag késang lembut.

Mimiti aya warnét di Sukabumi dina taun 2002, kawilang langka, da anu mindeng didatangan téh nyaéta warnét anu deukeut Capitol. Kajaba langka, ogé masih kawilang mahal. Sajam ‘ngenét’ kudu mayar Rp. 7.000,-. Henteu paduli, sanajan mahal tetep diudag, da hayang maca iber ti sababar…

Aussie

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Australia -sebenarnya bukan James Cook- namun Willem Jansz pada tahun 1606. James Cook sendiri menemukannya pada tahun 1770, kemudian dia memproklamirkan tanah temuannya sebagai milik kerajaan Inggris. Bagi para Konquistador, untuk menyatakan tanah yang ditemukan menjadi milik negara asalnya tidak perlu meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik tanah, orang tempatan, suku Aborigin, sebab mental para perompak memang seperti itu.
Sejarah kelam Australia semakin jelas, saat kerajaan Inggris mengirimkan narapidana-narapidana dari negara tersebut ke tanah baru ini. Pengiriman para narapidana dan gembong kejahatan dari Inggris itu bukan tanpa alasan. Kecerdikan pemerintah Inggris untuk menguasai Australia tanpa menggunakan 'bala tentara' namun dengan mengirimkan para pesakitan dan biang keladi penyakit masyarakat ke sebuah daratan yang mereka anggap masih sangat buas.

Para narapidana tidak dimasukkan ke dalam kerangkeng dan jeruji besi. Inggr…

Prediksi Nikolai Tesla

Nikolai Tesla, seorang ilmuwan yang meninggal secara tragis karena jatuh miskin dengan utang menumpuk itu telah meramalkan kondisi kehidupan di abad ke-21 di tahun 1926 -1935. Beberapa prediksi tersebut antara lain disebutkan oleh Tesla: “ Pada tahun-tahun ini, pemerintah di negara-negara maju masih sibuk membiayai perang dan pembuatan senjata untuk membunuh manusia, namun pada abad mendatang, Saya yakin, pemerintah di negara-negara maju akan lebih menitik beratkan penggunaan anggaran terhadap kegiatan riset, penemuan ilmiah, dan teknologi.”

Miklethwait menuliskan beberapa prediksi Tesla ini dalam buku “Masa Depan Sempurna: Janji dan Tantangan Globalisasi”. Tesla, pada tahun 1935, sebelum sampai pada kematiannya pernah menuliskan, “ Di abad mendatang, media-media akan lebih banyak memberitakan hasil penemuan ilmiah ketimbang memberitakan persoalan politik. Koran-koran akan menempatkan penemual ilmiah di halaman depan, sementara persoalan politik akan dicetak pada halaman belakang”.

Kehidupan Jalanan

Jumlah Populasi manusia pada tahun 2015 telah mencapai 7.21 milyar, data terakhir menunjukkan setengah dari jumlah polupasi manusia tersebut tinggal di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Tentu saja, dengan jumlah populasi manusia hampir mencapai 3,6 milyar ini merupakan potensi bagi negara-negara di kawasan tersebut. Sayang sekali, jumlah potensial penduduk tersebut masih belum seimbang dengan penguasaan teknologi dan informasi, - kecuali China, Jepang, dan Korea - India sedang dalam proses penjajakan. Sementara itu , negara-negara lain termasuk Indonesia masih berada pada kisaran angka 7.6 dalam HDI (Human Development Index).
Mayoritas manusia di tiga kawasan tersebut masih merupakan user bukan developer apalagi sebagai maker kemajuan teknologi dan informasi. Akibat nyata dari kondisi ini adalah; sebanyak hampir 1.2 milyar orang menempati posisi sebagai pembeli dan pengguna hasil teknologi yang dibuat oleh negara-negara maju, baik berupa barang atau aplikasi.

Menjadi sebuah …

Jalan Menikung Mengawal Demokrasi di Kota Sukabumi

Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Sukabumi akan diselenggarakan pada tahun ini. Kabupaten Sukabumi karena memiliki kedekatan karakteristik dengan Kota Sukabumi dalam dinamika politik - tidak salah jika - mempelajari Pesta demokrasi Pemilukada 2013 di Kota Sukabumi.

Sukabumi Discovery berhasil menyusun dokumentasi dan tulisan terkait penyelenggaraan Pemilukada 2013 di Kota Sukabumi. Ini bukan merupakan " Buku Pintar", namun tidak salah dibaca sebagai bentuk refleksi dan cermin bagi setiap element yang ada di Kabupaten Sukabumi dalam menghadapi Pemilihan Bupati Sukabumi Tahun 2015.

Selamat Membaca.

Mentalitas Bangsa dan Pembangunan Infrastruktur

Ingin mengetahui 'mentalitas bangsa'? Maka lihatlah infrastruktur yang telah dibangun oleh bangsa tersebut, kokoh dan kuat atau mudah rusak dan mempertontonkan kesemrawutan. Jika hal pertama terjadi, maka sudah dipastikan dalam diri bangsa tersebut menyimpan sikap-sikap kejujuran, kekuatan mental, dan ketangguhan pemikiran. Dan jika hal kedua yang terlihat oleh kita, sudah tentu dalam diri bangsa tersebut menyimpan mental-mental manifulatif, ketidak ajegan berpikir, dan berjalan pada kerangka tidak sempurna.
Memang terlalu sederhana mengukur karakter bangsa hanya menggunakan parameter pembangunan infrastruktur. Sebab banyak hal yang memengaruhi munculnya perubahan karakter dalam diri manusia. Sifat dasar manusia tentu diisi oleh segala potensi kebaikan, sebab manusia merupakan mahluk baik. Namun ketika mereka bersentuhan dengan faktor-faktor luar, nilai kebaikan bercampur dengan potensi-potensi kejahatan akan melahirkan mentalitas berbeda dengan fitrah sebenarnya. Hal lain, me…

Jalan Rusak

Pemberitaan di beberapa media cetak dan media sosial – sejak dua minggu terakhir ini – banyak mengupas kerusakan jalan di Sukabumi. Minggu lalu, harian Radar Sukabumi memberitakan; warga di daerah Warnasari Kabupaten Sukabumi mengungkapkan kekesalan kepada pemerintah dengan menanam pohon pisang di tengah jalan, tepat pada badan jalan yang mengalami kerusakan parah. Photo-photo yang diupload melalui media sosial merupakan bentuk protes dan rasa ketidak puasan masyarakat kepada pemerintah. Dengan bahasa sederhana bisa disimpulkan jalan rusak disana sini.

Bentuk rasa ketidak puasan bukan karena jalan rusak saja, lebih dari itu disebabkan oleh sikap pemerintah dalam melakukan perbaikan jalan yang telah rusak seolah tidak memenuhi standar perbaikan. Baru beberapa bulan jalan diperbaiki telah memperlihatkan kerusakan lagi. Tidak terpenuhi standar perbaikan jalan ini berbanding lurus dengan jumlah kendaraan besar yang melebihi batas tonase pengangkutan beban.

Pertanyaan penting terhadap ti…

Dialog Evolusi Atheistik

‎Kemarin, Saya melakukan semacam diskusi (baca perdebatan hehe) dengan seorang evolusionis atheistik. Dia berpandangan, penyebab terjadinya perang dan dehumanisasi adalah agama. Agama sebagai penggerak utama manusia saling bertikai. Agama dan keyakinan kepada Tuhan merupakan bentuk keyakinan purba, penuh arogansi. Banyak dalil di dalam kitab suci menyuruh manusia untuk memerangi manusia lain. Hingga dia mengatakan tidak percaya kepada Tuhan, dia hanya percaya kepada hal-hal yang bisa dibuktikan. Penting diingat, dalam diskusi tersebut, Saya tidak terlalu banyak mempertanyakan apakah evolusi itu ada atau tidak ada, kecuali mempertanyakan dasar ilmiah apa yang digunakan oleh para pengusung evolusi-atheistik hinggal melahirkan pandangannya.
Saya mengajukan satu pertanyaan awal: berapa tahun usia alam semesta? Dia tidak bisa menjawabnya, maka Saya pertegas, saat Anda hanya mempercayai hal-hal yang telah terbukti, ketika alam semesta ini telah terbukti, kenapa tidak bisa mengukur dan menghi…

Musim Panen di Selatan Kota Sukabumi Tidak Merata

Wilayah Selatan Kota Sukabumi telah memasuki musim panen. Di beberapa daerah seperti; Baros dan Lembursitu musim panen tahun ini mengindikasikan ketidak merataan.

Menurut salah seorang petani, Emed (68), ketidak merataan musim panen ini disebabkan oleh tidak meratanya penanaman padi di musim cocok tanam.

Diperkirakan, harga gabah hingga satu bulan ke depan berada di kisaran Rp. 250.000,- Rp. 350.000,- per kuintal.

" Untuk minggu ini, harga gabah diperkirakan mencapai Rp. 300.000,- karena curah hujan masih cukup tinggi." Kata Emed saat dihubungi oleh Sukabumi Discovery.

Petani yang menggarap lahan seluas 20 are tersebut mengaku, dari satu petak sawah yang digarap olehnya diperkirakan bisa memanen 6 - 8 kuintal gabah. [ ]

Kehidupan di Jaman Pra Internet

Anda pernah mendengarkan musik melalui gadget bernama walk-man? Pernah main Nintendo? Pernah ngabuburit di bulan Ramadhan sambil mengisi TTS? Atau ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Anda menghabiskan istirahat dengan main Game-Watch? Nah, berarti Anda merupakan generasi yang pernah mengalami hidup di jaman pra internet.

Internet telah menjadi sebuah revolusi besar dalam hal perkembangan teknologi dan informasi. Sulit terbendung, tanpa terprediksi sebelumnya baik oleh para futuris atau oleh para generasi yang pernah hidup di jaman pra internet. Di Negara ini, internet telah digunakan selama 16 tahun sejak diperkenalkan kepada publik pada tahun 1998. Perkembangan pengguna dan pemakaian internet menurut Badan Pusat Statistik dan APJII menunjukkan angka signifikan, kurvanya terus mengalami trend peningkatan. Data terakhir BPS pada tahun 2013 menunjukkan masyarakat yang menggunakan internet telah sampai pada jumlah 71,16 juta orang. Semakin meningkat pada tahun 2014 menjadi …

Bencana

Sejak era Orde Baru, banjir dan kemacetan telah menjadi permasalahan di Jakarta. Banyak faktor yang menyebabkan munculnya ‘bencana alam’ dan ‘bencana kemanusiaan ini’. Salah satu penyebab banjir di Jakarta yaitu kontur alam Jakarta sendiri berada di ketinggian rata-rata 7 Meter di atas permukaan laut (mdpl). Berbanding lurus dengan tinggi curah hujan antara Januari dan Februari rata-rata 350 milimeter, bencana banjir sulit dihindari hingga sekarang. Pembangunan infra struktur untuk menanggulangi banjir yang dicanangkan sejak kepemimpinan Ali Sadikin hingga sekarang secara kasat mata belum bisa menjawab persoalan ini. Namun, dengan bahasa sederhana karena banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan, sebagian besar dari kita menyebut ini sebagai ‘bencana alam’.

Fenomena lain sebagai bentuk ‘bencana kemanusiaan’ yang sudah biasa terjadi di Jakarta adalah kemacetan. Dikatakan sebagai ‘bencana kemanusiaan’ karena hal ini disebabkan secara kasat mata oleh manusia sendiri. Sebagus dan sebai…

Kang Warsa - 2014