Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Aki Misja

Kampung Cihérang pasosoré. Panonpoé sakeudeung deui tunggang gunung. Gunung di Beulah Kiduleun lembur kaciri bulao semu pias, usum geus teu tangtu, kamari hujan ayeuna halodo. Para patani mah katénjo semu marahmay, geus asup usum gedé paré, aya harepan, sugan jeung sugan ku panén usum ieu mah waragad tatanén bisa katutup kucara ngajual paré. Moal ka tangkulak ngajualna ogé, da pamaréntah geus jangji ka para patani rék meulian paré hasil tatanén, malahan geus diwangun Rice-Building, tempat keur nampa para patani anu ngajula paré hasil panén di puseur Kabupatén.

Anu sholawatan, barzanji, jeung pupujian geus réang di masigit. Lalay sing geleber kaluar tina panyumputanna. Nya, béda antara manusa jeung lalay, rék dina cara hirup ogé dina cara puak-paokna. Lalay mah dina maok jambu batu samahina, teu dirabut jeung tangkal-tangkalna. Béda jeung manusa, sabulan ka tukang tangkal Manggu Haji Sukri béak buahna aya anu maok. "Ku lalay badot gedé hulu dipaokna!" Ceuk Haji Sukri, kamari. …

Tawuran Pelajar

Dua minggu terakhir ini, para orangtua siswa merasa khawatir terhadap anak-anak lelaki mereka. Tawuran pelajar yang telah menewaskan 4(empat) orang pelajar di Cibadak menjadi salah satu alasan para orangtua harus lebih berhati-hati dalam memilih sekolah untuk anaknya kelak.

Patologi sosial dalam bentuk kenakalan remaja telah lahir di negara ini di era 70-an. Gempita ini berbanding lurus dengan maraknya kelompok-kelompok dan berbagai geng.

Bukan hanya remaja, tawuran antar kampung, pemuda atau sekelompok remaja pecinta aliran-aliran musik pun sering terjadi di era ini.

Kenapa para remaja dan pemuda senang berkelompok-kelompok atau memasuki salah satu geng? Ini merupakan hal alamiah yang terjadi dalam diri remaja. Aktualisasi diri dan keinginan mereka untuk diakui eksistensinya.

Adanya kecendrungan remaja dan kelompoknya melakukan tindakan ke arah yang tidak seharusnya disebabkan oleh beberapa faktor dan varian penyebab lainnya.

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap munculnya patologi…

Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional

Kota Tanpa Bioskop

Orang akan termenung, demi mendengar sebuah Kota bernama Sukabumi namun tanpa bioskop. Bagaimana tidak, sampai tahun 2000, seluruh bioskop di Kota Sukabumi gulung tikar, bangkrut, lalu punah. Terlalu esoteris memang kata 'punah' ini digunakan.

Tahun 70-80an, beberapa bioskop berdiri di Kota Sukabumi, berderet di Jl. A.Yani nama-nama bioskop seperti Indra, Capitol, Gelora, Royal, Galura, Mustika, dan Nusantara. Pengunjung dan penonton pun selalu penuh sesak. Banyak pilihan terhadap varian film apa yang akan mereka tonton: dari India hingga film-film Hollywood.

Kemeriahan bioskop-bioskop semakin terlihat pada hari-hari besar seperti Lebaran; baik Idul Fitri mau pun Idul Adha. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun dipaksa mengantri membeli karcis.
Awal tahun 1990, Bioskop 21 pun hadir di Sukabumi, bertempat di Ramayana lantai 2, Jl. Tipar Gede. Kehadiran bioskop 21 ini tentu secara perlahan menggerus eksistensi beberapa bioskop kecil karena beberapa hal: pertama, 21 dianggap sebag…

Globalisasi

Paul Krugman, seorang ekonom dan penulis di Newyork Times menyebut globalisasi sebagai "gombalisasi" ketika telah melenceng jauh dari apa yang diharapkan.

Bagi semua orang, globalisasi telah dimulai pasca revolusi industri dan mulai berkembang sedemikian pesat pada tahun 1996 saat seorang Inggris bernama Ferranti membangun perusahaan kecil penyedia layanan telekomunikasi yang bisa menciptakan teknologi jika "waktu bisa ditukar dengan uang".

Globalisasi telah menciptakan hal-hal baru dan paling baru. Sebuah adagium sederhana dikatakan oleh Lee Kwan New, "peradaban selalu lahir dan tumbuh dengan baik di daerah-daerah bersuhu sejuk." Dan di era globalisasi, suhu-suhu sejuk bisa diciptakan. Suhu sejuk tidak hanya bisa dinikmati di daerah-daerah pegunungan, di kamar-kamar kecil di sebuah tempat yang terletak di gurun pasir dan savana pun suhu sejuk bisa lahir, orang-orang mamasang AC di kamar-kamar dan di ruang-ruang kerja, peradaban besar mudah terlahir kembali…

Para Ibu Penjual Sayuran

Ada hari ibu, dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Ini bukan tanpa alasan, dirayakan pada tanggal tersebut bukan alasan mendasar kenapa harus ada hari ibu. Alasan krusial harus adanya hari Ibu adalah karena Ibu memang pantas dimuliakan, disebut-sebut, bahkan bukan pada tanggal ini saja.

Di kampungku, ada sekelompok ibu-ibu, memiliki profesi sebagai para penjual sayuran. Bagi mereka, menjadi penjual sayuran, bisa jadi bukan keinginan idealnya, namun mereka pun memiliki pilihan dalam hidup. Maka, profesi sebagai penjual sayuran pun mereka pilih, sebagai jalan hidup.
Udara masih dingin - dalam tradisi Sunda -baru menunjukkan 'wanci janari leutik' -dini hari-. Dari jalan sebelah selatan, kampung Pangkalan, para ibu bercaping bambu, membawa wadah pembawa sayuran pada punggung mereka, para ibu penjual sayuran itu muncul. Berjalan cepat, memburu sebuah terminal angkutan umum di Utara Balandongan.

Seorang penjual sayuran yang telah memilih profesi tersebut sejak tahun 1980-an bernama Iy…

Aksara

Aksara dan huruf merupakan simbol, proyeksi penting dari bahasa verbal ke dalam tulisan agar mudah dimengerti. Keefektifannya tentu bukan sekedar simbol yang tersembunyi dalam sandi-sandi, dia harus jelas dan bisa dipahami oleh umum. Bukan aksara atau huruf bergenre morse hanya dimengerti oleh beberapa orang atau kelompok tertentu.

Sejarah manusia, dalam The Third Wave -Toffler - , gelombang pertama terjadi saat manusia mulai mengenal tulisan. Mampu membahasakan pikiran dan verbal ke dalam aksara dan tulisan. Noam Chomski, belum mengurai secara utuh kenapa tiba-tiba pada waktu yang hampir bersamaan beberapa peradaban terbentuk dan telah menggunakan jenis huruf serta bahasa yang berbeda-berbeda. Kaum evolusionis pun menemui kebuntuan dan kemandulan alasan serta dalil yang sahih demi munculnya peristiwa besar pada kurun waktu 10.000-6.000 tahun lalu.

Beberapa peradaban, seperti Mesir Kuno, pada 4.000-3.000 tahun lalu telah melahirkan huruf 'hieroglif' diyakini simbol-simbol ini bu…

AYA KARETA DEUI DI SUKABUMI

Ti poé kamari geus ramé, arék dina média sosial atawa obrolan di jalan, gang, warung-warung kopi, jeung pos ronda, urang Sukabumi geus miboga deui alat transportasi publik karéta api. Pantesna mah disebut karéta listrik da dihirupkeunna ku listrik lain ku mesin uap deui siga karéta api abad ka 19.Lain pajabat jeung ménak wungkul anu ngabasakeun jeung ngagunemkeun aya karéta api deui téh. Somah jeung cacah ogé ngaguar, ngagunemkeun, jeung nyoal dioperasikeunna deui karéta api anu geus ampir lima taun ka tukang kari panineungan.Salah sahiji kamandang ngaguar, ku dioperasikeunna deui karéta api, sahenteuna bisa ngurangan masalah kamacétan jalur Sukabumi-Bogor. Lain éta sabenerna, ku ayana karéta api ieu, waktu 'tempuh' bakal leuwih éféktif. Da ari kamacétan patali marga darat jalur Sukabumi-Bogor mah lain saukur diakibatkeun ku lobana panumbang ogé dilantarankeun ku gedéna volume 'kendaraan' anu asup jeung minuhan jalan. Can tangtu ku dioperasikeunna deui karéta api bakal…

Orgasme Politik

Judul di atas jangan diinterpretasikan 'sumbang'. Secara harfiah, orgasme memang sering berhubungan dengan puncak saat dua pasangan melakukan persetubuhan, bahkan bisa saja terjadi saat seseorang melakukan masturbasi, menikmati satu hal atas prakarsa diri sendiri. Orgasme tidak melulu terjadi pada hal-hal demikian. Termasuk dalam perpolitikan pun bisa dan memang sering terjadi dalam sebuah metafora.

Pemilihan umum sejak tahun 1955, kecuali pada tahun 2009 melalui mekanisme pencoblosan. Dari kata coblos inilah makna 'orgasme politik' sudah mulai tersuratkan. Dalam arti, pada setiap pemilu, saat di bilik-bilik suara itulah terjadi 'orgasme politik' massal. Masyarakat pemilih memancarkan sperma-sperma politik saat mereka mencoblos surat suara, memilih empat perwakilan mereka sesuai dengan tingkatannya: DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan  DPRD Kab/Kota.

Sperma politik yang disemburkan ini membawa benih-benih politik yang akan membuahi ovum politik. Ada dua kemungkinan; spe…

Kang Warsa - 2014